
Nama : SELO SOEMARDJAN
Lahir : Yogyakarta, 23 Mei 1915
Agama : Islam
Pendidikan : - HIS, Yogyakarta (1921-1928)
- MULO, Yogyakarta (1928-1931)
- MOSVIA, Magelang (1931-1934)
- Universitas Cornell, Ithaca, New York, AS (Sarjana, 1959
- Doktor, 1959)
Karir : - Pegawai Kesultanan/Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (1935-1949)
- Kepala Staf Sipil Gubernur Militer Jakarta Raya (1949-1950)
- Kepala Sekretariat Staf Keamanan Kabinet Perdana Menteri (1950-1956)
- Sekretaris Badan Pengawas Kegiatan Aparatur Negara (1959- 1961)
- Kepala Biro III Sekretariat Negara merangkap Sekretaris Umum Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
- Sekretaris Menteri Negara Ekonomi, Keuangan, dan Industri (1966-1973)
- Sekretaris Wakil Presiden RI (1973-1978)
- Asisten Wakil Presiden Urusan Kesejahteraan Rakyat (1978- 1983)
- Staf Ahli Presiden RI (1983-sekarang)
- Guru Besar Universitas Indonesia
Alamat Rumah : Jalan Kebumen 5, Jakarta Pusat
Alamat Kantor : Jalan Kebon Sirih 14, Jakarta Pusat
|
|
SELO SOEMARDJAN
Dengan gaya kocak dan penuh humor, sosiolog ini selalu membuat pendengar bersemangat mengikuti ceramahnya. Permasalahan yang dilontarkannya dibumbui contoh kongkret yang menggelitik. Selorohnya membuat kantuk lenyap dan tawa menggemuruh.
"Tergantung caranya, dong," kata Soemardjan -- dalam acara Percakapan Ahli Ilmu-Ilmu Sosial FISP-UI, 1984 -- menjawab pernyataan seorang mahasiswa yang merasa khawatir karena penelitian ilmuwan sosial selalu dinilai sebagai sikap oposisi oleh pemerintah. "Kalau dengan memaki, tentu saja mereka marah," katanya disertai tawa pengunjung.
Ia lalu menceritakan pengalamannya ketika melakukan penelitian mengenai Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI) dan kelapa kacukan. Ia banyak menemukan kesalahan pemerintah, dan setelah diseminarkan kemudian disampaikan kepada yang berwenang. Karena untuk perbaikan, tidak ada akibat negatif yang ditimbulkan hasil penelitian tersebut. "Pemerintah tahu, saya ini hanya Selo Soemardjan. Di belakang saya tidak ada kekuatan politik, apalagi kekuatan negara asing," katanya. Hadirin spontan tertawa.
Pendiri dan Ketua Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial ini kini menjabat Asisten Wakil Presiden Bidang Kesra. Sejak usia 20 ia bekerja sebagai pegawai Kesultanan Yogyakarta. Pindah ke Jakarta, dan sempat memangku berbagai jabatan dalam pemerintahan, ia menjadi sekretaris wakil presiden sejak zaman Sri Sultan Hamengkubuwono.
Sosiolog ini mengaku tidak pernah ingat berapa jumlah buku yang ditulisnya. Perubahan Sosial di Yogyakarta diangkat dari disertasinya ketika meraih gelar doktor dari Universitas Cornell, AS, 1959. Menjadi guru besar sosiologi di UI, ia risau pada sistem penerimaan pegawai yang didasarkan pada diploma, bukan kepandaian dan kecakapan. Akibatnya, terjadilah "demokrasi diploma" karena para anak muda masuk universitas hanya untuk memperoleh diploma. Padahal, "Pembangunan membutuhkan kecakapan yang nyata, bukan diploma," katanya.
Menikah dengan Rr. Suleki Brotoatmodjo, ia dianugerahi enam anak. Satu di antaranya, penerbang TNI-AU, tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat di sekitar Madiun. Ia penggemar jogging dan di rumah suka mengepel dan mencuci piring.
|