
Nama : UMAR KAYAM
Lahir : Ngawi, Jawa Timur, 30 April 1932
Agama : Islam
Pendidikan : -Fakultas Pedagogi UGM, Yogyakarta
-Universitas New York, AS (M.A., 1963
Doktor, 1965)
Karir : -Penulis cerpen, esei, novel, dan pemain film
-Karyawan Departemen P & K (1956-1959)
-Direktur jenderal Radio, Televisi, dan Film Deppen (1966- 1969)
-Ketua Dewan Kesenian Jakarta, merangkap Rektor Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (1969-1972)
-Dosen UGM
-Direktur Pusat Latihan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Hasanuddin (1975-1976)
-Direktur Pusat Penelitian Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (sekarang)
Kegiatan Lain : Ketua Dewan Juri Festival Film Indonesia 1984
Karya : Karya tulis penting:
Antara lain: -Seribu Kunang-kunang di Manhattan, (1972)
-Sri Sumarah dan Bawuk, (1975)
-Seni, Tradisi dan Masyarakat, (1981)
-Semangat Indonesia, (1985)
Alamat Rumah : Jalan Tebet Utara III/28, Jakarta Selatan
|
|
UMAR KAYAM
Tokoh presiden pertama RI itu tiba-tiba muncul kembali. Sosok tubuhnya -- yang agak kegemukan -- terlihat gundah. Kesehatan tubuhnya, menurut yang empunya cerita, agak tidak menggembirakan, sehingga tim dokter dari Cina terpaksa ikut menanganinya.
Itulah peran Umar Kayam dalam film Pengkhianatan G-30-S/PKI, yang paling banyak ditonton tahun 1984-1985, sehingga memenangkan Piala Antemas pada FFI 1985 di Bandung. Umar Kayam, banyak teman yang memanggilnya Uka, sebenarnya bukan bintang film. Dosen sosiologi sastra FS UGM ini lebih dikenal sebagai seniman. Orang sering mendapatinya sedang bersepeda di kampus, atau bergurau seru di warung kopi.
Ia juga punya nama "Kiwati" sepulang dari sebuah perjalanan di Irian Jaya. Tidak mudah mendapat nama baru itu. Ia harus menerobos kelangkang tiga perempuan untuk bisa diangkat sebagai anak pungut Pak Buram, yang usianya enam tahun lebih muda dari dia, dari suku Asmat di pedalaman Irian.
Tentu saja belum ada orang Asmat asli yang meraih gelar Master dari Universitas New York serta doktor dari Universitas Cornell, AS. Perjalanan kariernya pun cukup jauh. Selain menjadi dosen di Unhas serta UGM, Umar Kayam sempat menjadi staf pegawai Departemen P & K, bahkan menjadi Dirjen Radio Televisi dan Film, 1966-1969. Tetapi darah kesenimanannya tidak pupus oleh belitan birokrasi. Berbagai cerpen, esei, juga novel telah ditulisnya seperti Seribu Kunang di Manhattan. Sedangkan dua noveletnya yang dibukukan jadi satu, Bawuk dan Sri Sumarah, bertutur tentang kehidupan keluarga yang berlatar belakang konflik batin seseorang yang tidak tahu apa-apa, tetapi harus menderita karena peristiwa G-30-S/PKI.
Umar Kayam juga menulis skenario film. Jalur Penang dan Bulu- Bulu Cendrawasih, yang difilmkan pada 1978, adalah buah penanya. Kolumnis ini rajin menulis di berbagai media massa. Tulisannya berbau renungan, tetapi tidak hendak mengajak berpikir berat.
Perhatiannya akan budaya nasional memang besar. Ia akan sangat senang bila diajak berbincang tentang wayang, film, musik, bahkan tentang mengapa Obahorok yang menjadi kepala suku di lembah Baliem Irian itu masih tampak segar. Kayam tidak suka formalitas. "Pakai jas itu panas," celetuknya ketika ia hanya berkemeja batik untuk acara yang seharusnya berjas.
Hingga kini, ia masih suka bolak-balik JakartawYogya. Perkawinannya dengan Yus Kayam seorang redaktur majalah Ayahbunda, memberinya dua anak yang juga menjadi temannya berseloroh.
|