A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

YOGA SOEGOMO




Nama :
YOGA SOEGOMO

Lahir :
Tegal, Jawa Tengah, 12 Mei 1925

Agama :
Islam

Pendidikan :
-AMS-B/SMT-B, Semarang (1942)
-Institut Pertanian Tokyo (1942 -- tidak tamat)
-Akademi Militer Tokyo, Jepang (1942-1945)
-Kursus Inteligen di Inggris (1949-1950)
-SSKAD (1954-1955)
-Seskoad II di Bandung (1961-1962)


Karir :
-Penerjemah tentara Sekutu di Tokyo/Criminal Investigation Division (1945)
-Asisten I Staf Teritorium Militer Banyumas (1948-1949)
-Asisten I Brigade Gunungjati (1949-1950)
-Asisten I Kodam Diponegoro (1955-1959)
-Dan RTP II Diponegoro (1959-1960)
-Atase Militer di Yugoslavia (1962-1965)
-Asisten I Kostrad (1965-1966)
-Wakil Ketua G-I Koti (1966-1967)
-Direktur Int. Strategi Hankam (1967-1968)
-Waka Bakin (1968)
-Kabakin (1968-1969)
-Ketua G-I Hankam/Dan Satgas Intel/As Intel Kopkamtib/Kapus Intel Strategi Hankam (1969-1971)
-Dubes/Wakil Kepala Perwakilan Tetap RI di PBB, New York (1971-1974)
-Kabakin (1974 -- sekarang)
-Kas Kopkamtib/Kabakin (1978 -- sekarang)


Kegiatan Lain :
-Ketua Umum Perkemi (Persaudaraan Bela Diri Kempo Indonesia)
-Ketua Umum BPP Persada (Perhimpunan Alumni Dari Jepang) (1985 -- sekarang)


Alamat Rumah :
Jalan Jambu 53, Jakarta Pusat

Alamat Kantor :
Satgas Kopkamtib, Jalan Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 712997

 

YOGA SOEGOMO


Menjadi "orang intel" sejak mudanya, di Staf Teritorium Militer di Banyumas, 1948, Jenderal (purnawirawan) Yoga Soegomo seperti sengaja menjauhi publikasi. Kecuali, tentunya, ketika sukses memimpin penumpasan pembajakan pesawat DC-9 Woyla milik Garuda di bandar udara Don Muang, Muangthai, Maret 1981. Saat itu namanya sempat menjadi buah bibir.

Karier anak Tegal ini sesungguhnya bermula pada zaman pendudukan Jepang. Selepas AMSwB dan SMTwB, Semarang, 1942, Yoga termasuk di antara 20 pemuda dari Pulau Jawa yang lulus tes untuk belajar di Tokyo. Berangkat dari Jakarta dengan kapal kecil sampai Singapura, mereka kemudian diangkut bersama 4.000 serdadu Jepang yang ditarik pulang. "Kapalnya benar-benar overloaded," kata Yoga. Dijejalkan ke tempat barang, ruang 6 meter persegi setinggi satu meter diisi 10 orang. "Wah duduk saja susah," tambahnya sambil tertawa.

Tiba di Jepang, ia harus mempertimbangkan satu di antara dua pilihan cita-citanya: militer profesional atau sarjana pertanian. Memilih yang pertama, ternyata, tidak berjalan mulus. Rupanya, bagi anak Jepang sendiri, harus dilihat dahulu apakah mereka berdarah samurai. Karena itu, sambil menunggu kesempatan, Yoga lalu masuk Institut Pertanian. Celakanya, ia ternyata disuruh bertani, dan "Pupuk harus diciduk sendiri dari WC terbuka," tuturnya. Belakangan, ia diterima juga di Akademi Militer, dan dimasukkan dalam "Batalyon Selatan" yang dikhususkan untuk kadet dari Burma, Malaya, Cina, dan Indonesia.

Setelah Jepang kalah dan diduduki Sekutu, Yoga menjadi penerjemah tentara Sekutu. "Saya kemudian dipercaya bekerja pada CID (Criminal Investigation Division)," katanya. Dari sinilah minatnya di bidang inteligen tumbuh. Maka, tidak heran kalau sekembali ke Indonesia dan bergabung dengan Divisi Diponegoro, anak bekas pegawai PJKA ini memilih bertugas di Bagian Inteligen, di bawah pimpinan Kolonel Zulkifli Lubis. Dengan bekal pendidikan inteligen di Inggris, ditambah SSKAD dan kemudian Seskoad, Yoga berhasil meraih puncak karier.

Bekas Kepala Staf Kopkamtib yang pernah menjabat Duta Besar/Wakil Kepala Perwakilan Tetap RI di PBB ini menilai, terdapat empat kelompok masyarakat yang kegiatannya menonjol dan mengancam kelangsungan pembangunan. Mereka yang membawa aspirasi PKI dan DI/TII. Yang tidak puas terhadap kebijaksanaan pemerintah, lalu bersikap apriori dan menentangnya. Kemudian kelompok masyarakat yang masih terpengaruh aspirasi liberal dan berdalih membela hak asasi manusia. Hal ini diungkapkannya dalam rapat kerja Komisi I DPR, November 1984.

Di antara kesibukannya, pria yang tampak luwes dan murah senyum ini menyempatkan diri menjadi Ketua Umum Persaudaraan Bela Diri Kempo Indonesia (Perkemi).

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


YAHYA A. MUHAIMIN | YAP THIAM HIEN | YAPTO SULISTIO SURYOSUMARNO | YASIR HADIBROTO | YOGA SOEGOMO | YOHANES RIBERU | YUDHISTIRA ARDI NOEGRAHA MOELYANA (ANM) MASSARDI | YUNUS EFFENDY HABIBIE | YUSTEDJO TARIK | YUSTINUS KARDINAL DARMOJOEWONO | YUSUF BILYARTA MANGUNWIJAYA | YUWONO KOLOPAKING | YUYUN Wirasasmita | Yudi Utomo Imardjoko


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq