A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

Yudi Utomo Imardjoko




Nama :
Yudi Utomo Imardjoko

Pendidikan :
Jurusan Teknik Nuklir, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (S1, 1987)
- Jurusan Teknik Nuklir, Iowa State University, Amerika Serikat (M.S., 1991)
- Program Teknik Nuklir, Iowa State University, AS (Ph.D, 1995)


Karir :
Dosen Teknik Nuklir UGM (1988-sekarang)
- Dosen Teknik Elektro UGM (1996-sekarang)
- Peneliti, Pusat Penelitian Lingkungan, UGM (1995-sekarang)
- Wakil Ketua Jurusan Teknik Nuklir UGM (September 1995-Maret 1996)
- Ketua Jurusan Teknik Nuklir UGM (8 Juli 1996-7 Juli 1999)
- Direktur Pusat Studi Energi UGM (1997-2000)
- Ketua Program Studi Teknik Fisika, Fakultas Teknik, UGM (1998-2001)


Keluarga :
Ayah : Prof. Dr. Imam Barnadib Ibu : Prof. Dr. Sutari Imam Barnadib Istri : Drg. Diatri Nari Ratih Anak : 1. Tedjo Sondyako Imardjoko 2. Tedjo Ardyandaru Imardjoko 3. Tedjo Prabandika Imardjoko

Alamat Rumah :
Jalan Deresan I/12, Yogyakarta 55281 Telepon/Faksimile (0274) 883518

Alamat Kantor :
Jurusan Teknik Nuklir UGM, Jalan Grafika 2, Kampus UGM, Yogyakarta Telepon (0274) 580882, 902120 Faksimile (0274) 902210

 

Yudi Utomo Imardjoko


Sebagai guru besar teknik nuklir, Profesor Yudi Utomo Imardjoko tak cuma pandai €œberkicau€ di depan para mahasiswanya. Selama berkiprah dalam Pusat Studi Energi UGM, ia berhasil membuat sel surya yang menghasilkan listrik untuk kampus. Kabarnya mitranya dari Spanyol akan mendirikan pabriknya di Indonesia, yang hasilnya dapat dipakai untuk keperluan rumah tangga. Pada 2002, ia membuat peti kemas khusus untuk limbah nuklir, yang patennya sedang diurus di United States Patent Office, Amerika Serikat.

Selain mengajar, berkutat berjam-jam di depan komputer merupakan keseharian ketua Program Studi Teknik Fisika Fakultas Teknik UGM itu. Di samping browsing internet, ia merasa harus membalas kiriman e-mail dari teman-temannya yang tersebar di seluruh dunia. €œTeman-teman saya ada di beberapa benua. Sekitar 60 e-mail masuk dari mereka setiap harinya,€ katanya tentang kegiatan rutin sekaligus hobinya itu.

Masa kecil profesor muda ini dihabiskan di Skip, salah-satu kampus di UGM. Maklum, kedua orangtuanya, Prof. Dr. Imam Barnadib dan Prof. Dr. Sutari Imam Barnadib, adalah dosen psikologi universitas tersebut. Mereka tinggal di sana.

Orangtuanya yang bersikap demokratis membuat Yudi pandai adu argumentasi sejak kecil. Di tengah keluarganya, apa pun bisa didiskusikan dan diperdebatkan. €œMereka tidak keras juga tidak lemah. Tapi kadang-kadang, kalau saya keterlaluan, dimarahi juga. Tapi cuma kata-katanya saja yang keras, mereka tidak pernah sampai memukul,€ kata suami Drg Diatri Nari Ratih ini.

Di masa kecil dan remajanya, Yudi terbilang tipe pemberontak. Suka melawan aturan sekolah, tingkah pengingkarannya aneh-aneh saja. Misalnya bila sekolah mengharuskan memakai seragam, ia berusaha memodifikasikannya. Celananya ia ganti dengan jins, sementara emblem di saku dan lengan kiri baju dicopotnya. €œMalas saja,€ katanya memberi alasan. Dan bila sesekali ia €œberbaik hati€ menuruti ketentuan sekolah, ia hanya mengelem emblem di saku dan lengan baju seragamnya.

Yudi kerap mempertanyakan manfaat seragam sekolah. €œMereka menjawab, biar tidak terlihat kesenjangan antara si miskin dan si kaya,€ ujarnya menirukan jawaban guru-gurunya, yang sulit ia pahami. €œBagi saya, kita tahu kok dia itu orang miskin atau orang kaya. Kalau kita main ke rumah mereka, kan jadi tahu dia kaya atau miskin,€ ujar alumnus program teknik nuklir Iowa State University, AS, ini. Pertemanan baginya tidak dilihat dari kaya atau miskinnya seseorang. Buntutnya, ia sering disuruh meninggalkan kelas oleh guru-gurunya.

Namun dalam kebadungannya, ia memiliki kelebihan dibanding teman-temannya. Yudi selalu rangking satu sedari SD hingga SMA. Gurunya pun tak berkutik. Selain impas antara pengingkaran dan kepandaiannya, mereka €“ yang rata-rata lulusan IKIP -- segan dengan orangtuanya. €œMungkin karena ayah saya itu dosen IKIP, mereka jadi segan sama Bapak kalau mau menghukum saya,€ katanya diiringi senyum.

Kecintaannya terhadap nuklir bermula dari seorang guru fisika, yang mengajarinya tentang atom -- partikel terkecil yang bila bertubrukan akan menimbulkan energi yang dahsyat. Semuanya benda beratom, itulah yang terngiang-ngiang dalam telinga dan mengundang minatnya. €œGuru SMA saya itu mendorong saya mengetahui lebih banyak tentang atom,€ kenangnya.

Yudi kecil pernah iri pada ayahnya, gara-gara Imam Barnadib pergi ke Amerika sendirian untuk meraih gelar master. Lalu ketika mengetahui ada program pertukaran pelajar di bawah bendera American Field Service (AFS), ia pun mendaftar dan diterima lamarannya. Berangkat ke Amerika, ia tinggal di salah satu kota kecil yang berpenduduk 25 ribu jiwa di Ohio.
Pulang ke Yogyakarta, ia mengambil S1 di Jurusan Teknik Nuklir di Fakultas Teknik Nuklir (1987), sementara gelar master dan doktornya ia gondol di Iowa State University, masing-masing pada 1991 dan 1995.

Ketika mondok di Ohio, ia memperoleh pelajaran berharga €“ yang turut membentuk kepribadiannya -- dari orangtua angkatnya. Suatu ketika, sepasang-sepasangnya sepatu Yudi rusak. Tentu ia tidak serta-merta dapat mengharapkan gantinya dari orangtuanya yang berada jauh nun di belahan bumi yang lain, sementara orangtua angkatnya di Amerika itu tak mau begitu saja membelikan yang baru. Ia harus membeli dengan hasil keringatnya sendiri. Kebetulan, teman si ayah angkat memerlukan tenaga untuk memotong dan mencabuti rumput liar di halaman rumahnya. €œSaya harus mencabuti rumput seluas lapangan sepakbola untuk mendapatkan uang guna membeli sepatu,€ paparnya.

Ketika mengambil Ph.D. di Iowa State University, ia mendapat pengalaman unik yang lain. Suatu hari, ia mempresentasikan hasil penelitiannya di Florida, yang diilhami oleh teori Profesor Leo Beltrazi. Waktu itu, ada seorang pengunjung yang duduk di belakang berkali-kali melontarkan pertanyaan, yang ia jawab dengan rinci dan jelas. Seusai acara, ia didatangi orang tersebut, yang memperkenalkan dirinya sebagai Profesor Leo Beltarzi, sang ahli fisika, yang mengucapkan selamat padanya. €œWow! Saya terkejut dan sangat senang,€ kata Yudi.

Dari perkawinannya dengan Nari Ratih ia dikaruniai tiga putra, yang dididiknya agar mandiri seperti ayahnya. Ahli fisika nuklir ini mengaku tidak terobsesi membuat kapal bertenaga nuklir, apalagi bom nuklir. €œSaya ingin pensiun dan banting stir menjadi pengusaha yang memiliki maskapai penerbangan,€ katanya. €œItulah cita-cita saya sejak kecil.€

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


YAHYA A. MUHAIMIN | YAP THIAM HIEN | YAPTO SULISTIO SURYOSUMARNO | YASIR HADIBROTO | YOGA SOEGOMO | YOHANES RIBERU | YUDHISTIRA ARDI NOEGRAHA MOELYANA (ANM) MASSARDI | YUNUS EFFENDY HABIBIE | YUSTEDJO TARIK | YUSTINUS KARDINAL DARMOJOEWONO | YUSUF BILYARTA MANGUNWIJAYA | YUWONO KOLOPAKING | YUYUN Wirasasmita | Yudi Utomo Imardjoko


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq