
Nama : ELFA SECIORIA HASBULLAH
Lahir : Garut, Jawa Barat, 20 Februari 1959
Agama : Islam
Pendidikan : -SD di Bandung (1971)
-SMPN IX di Bandung (1974)
-SMAN III di Bandung (1977)
-Akademi Teknologi Nasional di Bandung (Tingkat II, 1980)
-Piano Privat 1 dan 2 di Bandung (1970-1974)
-Simfoni di Bandung (1971-1978)
-Aransemen Orkestra di Bandung (1974-1978)
Karir : -Ketua Elfa Music Studio (1981-sekarang)
-Direktur Musik Jazz Corner Bandung (1983-sekarang)
-Kepala Sekolah Pop Music Mate, Jakarta (1982-sekarang)
Alamat Rumah : Jalan Aceh 101, Bandung Telp: 56021
Alamat Kantor : Yamaha Music Centre, Jalan Panglima Polim III No. 19, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 715447, 730858
|
|
ELFA SECIORIA HASBULLAH
Selama satu jam membacakan makalah dalam bahasa Inggris, ia gemetar, dan keringat dinginnya keluar. "Saya benar-benar panik," kata Elfa. Di luar dugaannya, pada ASEAN Song Festival di Manila, 1984, itu semua peserta harus membuat makalah tentang etnologi musik negeri masing-masing. "Bahasa Inggris saya 'kan kacau," katanya lagi. Namun, dengan makalah berjudul Saluang, Pupuit, Talempong, Gandang (Minangkabau) Indonesia, Elfa beroleh pujian dari para peserta lain.
Dari acara tersebut, Elfa pulang membawa penghargaan untuk The Best Arranger and the Best Song. Lagu yang ia tampilkan berjudul Detik tak Bertepi, yang dinyanyikan Christine Panjaitan.
Dua tahun sebelumnya, 1982, pada acara yang sama di Bangkok, Elfa juga menyabet piala sebagai pengaransir terbaik. Pada Golden Kite Festival di Malaysia, 1984, ia best performer -- dengan lagu Kugapai Hari Esok, yang dinyanyikan Harvey Malaiholo.Dalam kariernya, Elfa sudah 14 kali menjadi pengaransir orkes Telerama di TVRI. Untuk Candra Kirana -- yang lebih gemerlapan itu -- ia sempat mengisi rekaman sampai paket ke-13, lantas mengundurkan diri. Mengapa? "Seorang musisi harus tahu kapan ia harus berhenti," jawabnya.
Bujangan berwajah kebocahan, dengan tinggi 157 dan berat 56 kg, ini mempunyai kebiasaan unik. Untuk menggubah lagu, selain peralatan, ia membutuhkan suasana tenang. Dan ini ia dapatkan di kamar hotel. Harga satu aransemennya pernah mencapai US$ 200.
Elfa lahir dari keluarga yang senang musik. Ayahnya, Hasbullah Ridwan, seorang polisi militer yang aktif bermain musik di berbagai grup. Dari ayahnya ini Elfa pertama kali belajar musik. Ia sudah tampil di depan umum pada usianya yang kedelapan. Ketika itu Elfa pemain piano dalam Trio Jazz Yunior IVADE.
Bimbingan mengenai teori dan sejarah musik, komposisi, dan karakter instrumen kemudian ia dapatkan dari Kapten Anumerta F.A. Warsono, pimpinan Orkes Simfoni Angkatan Darat Bandung. "Saya merasa berutang budi pada beliau," kata Elfa. Sampai awal 1985, Elfa, yang sempat pula belajar melukis pada Almarhum Hendra Gunawan, belum menikah.
|