
Nama : Eko Budihardjo
Lahir : Purbalingga, Jawa Tengah, 9 Juni 1944
Agama : Islam
Pendidikan : - SR Latihan / SGB II , Purwokerto (1956)
- SMP Negeri II, Purwokerto (1962)
- SMA Negeri II, Purwokerto (1962)
- Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik UGM, Yogyakarta (1969)
- University of Wales Institute of Science and Tecnology (M.Sc. in Town Planning), Inggris (1978)
- Kuliah S3 dari ITB (Tidak diselesaikan keburu meraih jabatan Guru Besar (1990)
- Kursus Housing in Developing Countries, Institute for Housing Studies, Rotterdam (1985)
Karir : - Sekretaris Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Undip (1971-1973)
- Kepala Biro Bangunan Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro (1973-1976)
- Tugas Belajar ke Inggris (1976-1978)
- Kepala Biro Penelitian FT Undip (1978-1986)
- Ketua Jurusan Arsitektur FT Undip (1986-1989)
- Pembantu Dekan I FT Undip (1989-1992)
- Dekan Fakultas Teknik Undip (1992-1998)
- Rektor Universitas Diponegoro (1998-sekarang)
Kegiatan Lain : - Ketua Kehormatan Ikatan Arsitek Indonesia Cabang Jawa Tengah (1988-1994)
- Direktur Lembaga Studi Pembangunan Daerah (1988-sekarang)
- Komisaris PT Reka Citra (1989-sekarang)
- Pemimpin Redaksi Majalah Teknik (1990-1992)
- Anggota Majelis Arsitek Ikatan Arsitek Indonesia Pusat, Jakarta (1992-sekarang)
- Pemimpin Umum Koran Kampus Manunggal (1992-1996)
- Presiden Rotary Club Semarang (1993-1994)
- Anggota Forum Pakar, Dinas Tata Kota DKI Jakarta (1993-1996)
- Anggota Majelis Arsitek IAI Pusat, Jakarta (1993-sekarang)
- Anggota Dewan Pembina Ikatan Ahli Perencana Pusat, Jakarta (1994-sekarang)
- Ketua Dewan Kesenian Jawa Tengah (1994-sekarang)
- Direktur Environmental Protection, Rotary Club Semarang (1994-sekarang)
- Ketua Dewan Penasehat Arsitektur dan Pembangunan Perkotaan (1994-sekarang)
- Anggota Dewan Riset Nasional (1994-1999)
- Penasehat Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI)
- Anggota Dewan Kehormatan Ilmiah Universitas Diponegoro (1995-1998)
- Anggota Pokja Sosial Budaya Lemhannas (1995-sekarang)
- Wakil Ketua Yayasan GRIS (1996-2001)
- Anggota Majelis Kode Etik IAP Pusat, Jakarta (1996)
- Direktur Eksekutif Lembaga Riset Konsultasi dan Pembangunan (1994-sekarang)
- Penasehat Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) cabang Jawa Tengah (1994)
- Ketua Dewan Pembina Persatuan Sarjana Arsitektur Indonesia Pusat (1996-sekarang)
- Penasehat Yayasan Ar-Raudhah, Semarang (1996-sekarang)
- Ketua Yayasan Sivitas Akademika (1998-sekarang)
- Penasehat Asosiasi Biro Reklame Semarang (ABSRI; 1998)
- Penasehat Yayasan Tanah Air, Semarang (1998-sekarang)
- Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Jawa Tengah (1998-sekarang)
- Ketua Badan Pertimbangan Dewan Riset Daerah Jawa Tengah (1998-sekarang)
- Anggota Dewan Pertimbangan Yayasan Seruling Mas, Semarang (1998-sekarang)
- Ketua Dewan Penasehat Parliament Wacth Indonesia (PARWI; 1999-sekarang)
- Ketua Dewan Pakar Masyarakat Agrobisnis dan Agroindustri Indonesia (1999-sekarang)
- Penasehat PGRI Jawa Tengah (1999)
- Penasehat Wayang Orang Ngesti Pandowo, Semarang (1999)
- Penasehat Ahli Jurnal Lingkungan (Environment Journal (2000-sekarang)
- Ketua Forum Rektor Indonesia (2000-2002)
- Penasehat Yayasan Lembaga Konsumen Jasa Konstruksi (2001)
- Penasehat Lembaga Visioner Indonesia (VISINDO; 2001)
- Penasehat Asosiasi Konsultan Pembangunan Permukiman Indonesia (AKPPI) cabang Jawa Tengah (2001)
- Anggota Dewan Pembina KONI Jawa Tengah (2002-sekarang)
- Anggota Dewan Pakar ICMI Orwil Jawa Tengah (2001-sekarang)
- Ketua Dewan Yayasan GRIS (2001-sekarang)
- Ketua Kehormatan Forum Rektor Indonesia (2001-sekarang)
- Anggota Dewan Penasehat Yayasan Economic Law and Global Studies Centere (2001-sekarang)
- Anggota Komnas Habitat, Jakarta (2001-2005)
- Co-promotor penguji eksternal program pasca sarjana (S2 dan Program Doktor) di UGM, IPB, Unhas, Universitas Malaya, Queensland University of Tecnology, Australia (2002)
Karya : - Arsitektur dan Kota di Indonesia (1983)
- Menuju Arsitektur Indonesia (1983)
- Architectural Conservation In Bali, Gama Press, Yogyakarta (1983)
- Percikan Masalah Arsitektur (1984)
- Arsitektur, Perumahan, Perkotaan (1986)
- Arsitek Bicara tentang Arsitekur Indonesia (1987)
- Analisa Statistik Sektor Konstruksi, Biro Pusat Statistik, Jakarta(1988)
- Konservasi Lingkunagan Bersejarah di Surakarta (1989)
- Analisis Statistik Perumahan (1990)
- Jati Diri Arsitektur (1993)
- Pendekatan Sistem Dalam Tata Ruang (1994)
- Semarang : Beld Van Een Stad (co-author), Asia Maior, Purmerend Netherland (1995)
- Presentation and Conservation of Cultural Heritage in Indonesia (1997)
- Kota yang Berkelanjutan (1998)
- Etika Keilmuan dan Hak atas Kekayaan Intelektual (1999)
- Gayeng Semarang(bersama Prof. Dr. Satjipto Rahardjo dan Prof. Dr. Abu Suud; 2000)
Penghargaan : Predikat lulusan terbaik dan penghargaan €œSeroja Wibawa Nugraha (1994)
- Dosen Teladan dari Universitas Diponegoro (1981)
- Upanyasa Bakti Upapradana dari Gubernur Jawa Tengah (1989)
- Penghargaan dengan pujian dari Ikatan Arsitek Indonesia, Jakarta (1991)
- Distinguished Leadership Award for Outstanding Achievements in Architecture Planning and Housing dari The American Biografikal Institute, AS (1992)
- Man of the Year, dari harian Suara Merdeka, Semarang (1993)
- Bintang Emas Budaya dari Pusat Lembaga Kebudayaan Jawa, Surakarta (1995)
- Satya Lencana Karya Satya dari Presiden RI (1996)
- Adhicipta Rekayasa dari Persatuan Insiyur Indonesia Jakarta (1996)
- Adhikarya Pariwisata dari Menparpostel RI (1997)
- Kalpataru, sebagai pendidik berprestasi dari Menteri Negara KLH RI Jakarta (1998)
- Penghargaan sebagai Pendidik Berprestasi dari Yayasan PWI Jawa Tengah (1999)
- Penghargaan sebagai Tokoh Pendidikan dan Kebudayaan dari Insan Journalis Televisi Indonesia Korda Jawa Tegah (2000)
- Penghargaan Walikota sebagai Pakar Peduli Kota Semarang (2001)
Keluarga : Ayah: Tedjo Hadisumarto
Ibu : Siti Maemunah
Isteri : Ir. Sudanti MSL
Anak : 1. Dr. Holy Ametati
2. Aretha Aprilia
Alamat Rumah : Jalan Imam Bardjo, SH 7, Semarang 50241
Alamat Kantor : Jl. Prof. Soedarto, SH, Tembalang, Semarang
|
|
Eko Budihardjo
Eko Budiharjo tak pernah membayangkan hidupnya menjadi seperti sekarang ini. €œBeyond my expectation, sudah melampaui harapan saya,€ ujar rektor Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, yang telah dijabatnya untuk kedua kalinya.
Awalnya ia hanya ingin menjadi dosen, bersekolah ke luar negeri, lalu pulang membawa mobil buatan Eropa atau Amerika. Tak tahunya nasib berbicara lain. Pada 1976, ia berangkat ke Inggris melanjutkan studi S2 dengan menjual mobilnya, tapi sepulang dari sana ia malah mengontrak rumah dan tak memiliki mobil. €œKami jadi gelandangan,€ candanya.
Tapi ada ganjaran lain, karirnya menjadi lempang. Dari dosen melompat menjadi ketua jurusan, dekan, pembantu rektor, lalu rektor Undip. Ia dikenal memiliki konsep unik mengenai bangunan tua. Ia bilang a city without old buildings is just like a man without memory, kota tanpa bangunan tua sama saja manusia tanpa ingatan. Manusia tanpa ingatan sama dengan orang gila, kota tanpa ingatan berarti kota gila. €œWalikota kemudian tersentuh, kalau kotanya gila berarti walikotanya gila pula,€ ujar Ketua Kehormatan Forum Rektor Indonesia itu. Hasilnya wilayah kota lama Semarang dijadikan area konservasi oleh Pemda Semarang, dan tak seorang pun berani membongkarnya.
Menjadi seorang ahli planologi tak membuatnya kaku, tapi malah gandrung kesenian. Ia dikenal sebagai insinyur yang nyeni, menyukai puisi, dan juga seorang penasehat grup Wayang Purwo. Ia piawai menulis. Tak heran bila tulisannya dimuat di media massa nasional dan lokal. Malah ia menjadi kolomnis tetap harian Suara Merdeka dan menjadi pengisi rubrik €œGayeng Semarang€ bersama Prof. Dr. Satjipto Rahardjo dan Prof. Dr. Abu Suud.
Eko lahir di Purbalingga pada 9 Juni 1944, tapi besar di Purwokerto. Layaknya anak kecil umumnya, ia lumayan bengal. Kebandelannya tersalurkan bila disuruh menggantikan ayahnya meronda. Ia bukannya mengamankan lingkungannya, malah memalingi mangga, tebu, dan jambu di kebun tetangganya. €œIseng saja pokoknya kenyang,€ paparnya. Tapi pernah aksi mengambil tebu orang dipergoki pemiliknya, dan lari dengan meninggalkan sandalnya. €œBesoknya sandal itu digantung seperti bendera oleh pemilik tebu,€ kenangnya sembari tersenyum geli.
Di matanya, jalan kebenaran dapat ditempuh melalui jembatan agama, ilmu, dan kesenian. €œSeniman itu pikirannya bebas. Kalau setuju ya setuju, kalau enggak setuju ya bilang tidak setuju,€ ujar ketua Dewan Kesenian Jawa Tengah itu.
Jiwa seni mengalir dalam dirinya tanpa ia sadari. Mulanya, semasa kanak-kanak, ia sangat menyukai hal-hal yang bersentuhan dengan keindahan dan kesenangan. Meski prestasinya tak bagus-bagus amat, guru SMP-nya mengakui tulisan dan gambarnya bagus. Ia disarankan gurunya memilih arsitektur. Ia ikuti nasehat gurunya itu. Setamat SMA ia masuk ke jurusan arsitektur Universitas Gadjah Mada (UGM), trendsetter saat itu. €œMinimal saya sudah mengikuti harapan orang tua. Kan ketika menimang saya mereka suka bertanya kalau besar mau jadi dokter apa insinyur? Nah, sekarang sudah jadi insinyur,€ katanya dengan kocak.
Ketertarikannya menjadi pengajar lantaran ayahnya, Tedjo Hadisumarto, adalah seorang guru. Sebab lain, menurut Eko, ia ingin agar dapat bersekolah ke luar negeri. €œKalau bisa seperti Robby Tjahyadi pada tahun 1976, yang kembali ke tanah air membawa mobil VW dari Italia,€ ujarnya santai. Tahun itu memang ada kebijaksanaan mobil mewah atas nama mahasiswa tak dikenai pajak. Hanya saja nasibnya apes sebab ia tak mendapat mobil, padahal mobilnya terpaksa ia lego untuk membiayai kuliah dan memboyong istrinya ke Inggris.
Baginya orangtua adalah teladan. Ia patuhi benar nasehat mereka. Hidup harus sing sujud karo pangeran (harus berbakti kepada Tuhan). Sing bekti karo wong tuwo (harus berbakti kepada orangtua). Sing rukun karo sedulur (rukun dengan saudara). Sing asih karo sopo podo (mengasihi sesama). Dan ojo dadi wong kang iren lan sraten (jangan jadi pengiri dan pendengki). €œBila dipakai kaidah ini hidup bakal lancar, walaupun yang menentukan akhirnya pelaksanaannya,€ ujar pengagum Bung Karno itu.
Menurut Eko, peluang atau kesempatan datangnya hanya sekali, yang bila hilang tak mungkin ditangkap lagi. €œSaya pikir, asal kita pintar membagi waktu, pekerjaan akan selesai dengan baik,€ terang suami dari Ir. Sudanti itu. Sebagai penikmat seni ia tak pernah berlaku formal. Bertemu dengannya memang tak perlu janjian, bisa di mana saja. €œSaya meyakini kita harus berbuat baik terhadap semua orang saat hidup menanjak, sebab kita akan bertemu mereka juga saat hidup kita jatuh,€ ujarnya berfilosofi.
Orang Jawa bilang witing tresno jalaran soko kulino, cinta bermula dari seringnya bertemu muka. Begitulah kisah asmaranya dengan Sudanti, yang semasih mahasiswa tinggal di kos-kosan yang terletak di mulut salah satu gang di Jalan Mataram, Semarang, sedang ia mondok di dalam gang yang sama. Keluar masuk mulut gang membuat keduanya kerap bertemu, lalu cinta mulai bersemi.
Pada 1971 mereka pacaran, dua tahun kemudian tunangan, setahun berikutnya menikah. €œSaya hanya betah pisah dengannya tiga bulan, selanjutnya sudah tak tahan bila tak bertemu,€ ujarnya. Tak aneh bila Eko selalu mengajak istrinya setiap ia mendapat kesempatan belajar di luar negeri. Dan hal itu pula yang menghambat istrinya meraih gelar doktor.
Meski kuliah S1-nya terhenti lima tahun, toh istrinya akhirnya dapat menamatkan gelar master ilmu lingkungan dengan cumlaude. Eko mengaku bangga karenanya. €œBila kami berdebat, ia (Sudanti) selalu berkata, debat kok sama sarjana cumlaude,€ ujar penggemar film misteri dan membaca itu.
Di antara karyanya yang berjumlah 22 buku itu, ada dua buku yang ia anggap paling penting baginya yang ditulis dalam bahasa Inggris: Architectural Conservation In Bali dan Presentation and Conservation of Cultural Heritage in Indonesia. Keduanya bacaan wajib mahasiswa S2. €œSaya jadi senang tidak sia-sia menulis, dan bisa tersebar ke luar negeri,€ ujarnya.
Meski dengan prestasi menggunung dan kesibukan setumpuk, toh ada yang membuatnya khawatir. Ia selalu memikirkan nasib anak cucunya. €œDulu saya bangga menjadi bangsa Indonesia, sekarang sesama sebangsa saling bertarung, lantas besok bagaimana nasib kita yang secara ekonomi ambruk, secara politis kacau balau?€ cetusnya dengan nada waswas. Tapi ia masih bisa tersenyum, sebab apa yang telah ia capai melebihi dari yang ia inginkan. Dan anak-anaknya sudah berprestasi melampaui apa yang ia raih saat seumur mereka. Beyond my expectation!
|