
Nama : GEDE PUDJA
Lahir : Mataram, NTB, 11 Maret 1935
Agama : Hindu
Pendidikan : -SR, Mataram (1949)
-SMPN Mataram, Denpasar (1952)
-SMA, Denpasar (1955)
-Benares Hindu University, New Delhi (M.A., 1961)
-Fakultas Hukum UI (1977)
-Lemhanas (1980)
Karir : -Guru SMP Dwijendra (1955-1957)
-Dosen Institut Ilmu Keuangan (1965-1969)
-Dirjen Bimas Hindu-Budha Departeman Agama RI (1972-1985)
Kegiatan Lain : -Sekjen Hindu-Bali (1961-1969)
-Bendahara International Student Association (1958-1961)
-Kwarnas Gerakan Pramuka sebagai Andalan Nasional (1970-1975)
-Dosen Seskoad (1975 -- sekarang)
Alamat Rumah : Jalan Madrasah 22, Cipete, Jakarta Selatan Telp: 762627
Alamat Kantor : Departemen Agama RI Jalan Lapangan Banteng Barat, Jakarta Pusat Telp: 360032
|
|
GEDE PUDJA
360032
Lelaki Bali ini dilahirkan di Mataram, Lombok. Ayahnya, Made Tarka, adalah bendaharawan daerah di Mataram. Gede Pudja berhasil masuk HIS di kota itu. Ketika Jepang datang, ayahnya sakit-sakitan, dan meninggal dunia ketika Pudja duduk di kelas III HIS. Anak sulung dari sembilan bersaudara ini pun ikut neneknya.
Tokoh agama Hindu ini pada mulanya bercita-cita menjadi dokter. Tetapi urung karena ia tak bisa diterima di SMA bagian B (pasti-alam). Diterima di SMA bagian A (sastra budaya), ia sudah mengajar di sebuah SMP swasta di Denpasar. Pelajaran yang diberikannya: sejarah, ilmu hayat, dan bahasa Sanskerta. Sejak itu ia mulai menaruh harapan sebagai guru, bahkan berkhayal punya sepeda, rumah kecil, keluarga kecil.
Setelah naik ke kelas II SMA, Pudja mendapat kepercayaan untuk mengajar bahasa Sanskerta pada murid kelas I di tempatnya bersekolah. Keahliannya pada bahasa Sanskerta itu membuat ia merampungkan tidak kurang dari 15 buah kitab tuntunan agama Hindu, hasil terjemahan antara lain; Sama Weda, Reg Weda. Semua itu dilakukannya pada malam hari, karena profesi guru masih disandangnya. Kini ia dosen di Institut Hindu Dharma, Denpasar, juga di Universitas Indonesia.Gelar M.A. diraihnya dari Benares Hindu University, New Delhi, 1961. Tahun itu juga ia pulang ke Indonesia dan bekerja pada Departemen Agama. Kariernya terus menanjak dan sebelas tahun kemudian ia diangkat menjadi Direktur Jenderal Bimas HinduwBudha.
Pudja, yang sering mengikuti dialog antarumat beragama ini, menyatakan bahwa dialog antarumat beragama itu nyata hasilnya. Misalnya dalam hal kefanatikan yang sudah mereda. Sikap atau pandangan agama lain terhadap agama Hindu pun dinilainya sudah banyak berubah.
Menikah dengan Made Astari, ia dikaruniai empat anak, tiga di antaranya perempuan. Pudja hampir selalu tidur menjelang dinihari. Setelah melakukan meditasi antara lima dan 30 menit di malam hari, ia mulai membaca buku dan menulis. "Saya menggunakan jam-jam tidur saya untuk mengerjakan pekerjaan penting di luar pekerjaan administrasi kantor," kata Pudja.
Kegemarannya lari pagi terpaksa tidak bisa dilakukannya sejak tahun 1980, karena ia mengidap penyakit jantung. Belakangan ia mulai berolah raga ringan, misalnya main tenis seminggu sekali -- meskipun sekadar pukul bola.
|