A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

GREGORIUS SIDHARTA SOEGIYO




Nama :
GREGORIUS SIDHARTA SOEGIYO

Lahir :
Yogyakarta, 30 November 1932

Agama :
Katolik

Pendidikan :
-SD
-SMP
-SMA di Yogyakarta
-ASRI, Yogyakarta (1950)
-Jan Van Eyck Academie, Negeri Belanda (1957)
-Seni Rupa ITB, Bandung (1975)


Karir :
-Dosen Jurusan Patung ASRI Yogya (1958-1964)
-Ketua Pelukis Indonesia Muda Yogya (1958-1961)
-Dosen Seni Rupa ITB (1966)
-Ketua Akademi Seni Rupa LPKJ di Jakarta (1970-1973)
-Ketua Biro Penelitian dan Pengembangan LPKJ-IKJ (1981-1982)
-Dosen Studio Patung Seni Rupa ITB (sejak 1965 -- sekarang)


Kegiatan Lain :
-Sekjen Komite Nasional International Association of Art (1968-1982)
-Ketua Umum Liga Senirupawan Indonesia di Bandung (1978-1980)


Alamat Rumah :
Jalan Sangkuriang E-4, Bandung Telp: 022-84927

Alamat Kantor :
Jalan Ganesha 10, Bandung

 

GREGORIUS SIDHARTA SOEGIYO


Ia berpendapat perlunya suatu badan yang memonitor, meneliti, dan mengevaluasi perkembangan seni rupa, agar kegiatannya dapat diikuti. "Sekarang ini, peta perkembangan seni rupa Indonesia kacau, kabur, tidak ketahuan arah dan asalnya," kata Sidharta, senirupawan terkemuka Indonesia.

Tiga puluh tahun menggeluti dunia seni rupa, menjadikannya kaya pengalaman kreatif. Namun, ia merasa tugasnya masih banyak. Kehidupan seni rupa belum lengkap, karena "Belum memiliki unsur kehidupan yang sehat dan berfungsi," katanya. Ia melihat langkanya penulis seni rupa yang berwawasan luas.

Sejak kecil ia senang menggambar. Sekalipun anak ketiga dari sepuluh bersaudara ini tidak pernah berpikir menjadi pelukis atau pematung. Ia malah ingin menjadi pastor. Tetapi takdir menentukan lain. Barangkali, darah seni dari ayahnya -- seorang guru, pemain biola, dan pelukis -- turut berperan menggiringnya menjadi seniman.

Ratusan karyanya -- lukisan, grafis, patung -- tersebar, bukan hanya di tanah air, tetapi juga memperkaya koleksi beberapa museum di luar negeri. Yang setiap saat bisa dilihat masyarakat, ialah tata ruang di Monumen Proklamasi, Jakarta. Deretan pilar yang merupakan deformasi dari bentuk sayap garuda, yang menjadi latar belakang tokoh Proklamasi Soekarno- Hatta, adalah karya Sidharta.

Tahun 1982, ia memamerkan hampir semua karya yang pernah diciptakannya. Pameran retrospective -- demikian ia menyebutnya -- itu merupakan pameran terbesar yang pernah diadakan senirupawan Indonesia sampai pada waktu itu. Pada tahun yang sama, ia menerima Hadiah Seni dari pemerintah Indonesia.

Dosen seni rupa ITB ini menikah dengan Maria Eri Noerna Moerdani, adik kandung Jenderal Benny Moerdani, dikaruniai empat anak. Tampaknya, tidak seorang pun di antara empat anaknya itu yang mengikuti jejak ayahnya. Tetapi, Dharta -- demikian nama panggilannya -- tidak kecewa karena, "Satu saja dalam satu rumah sudah cukup," ujarnya.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


GANDHI | GATOT Achmad Safari Amrih | GATOT SOEHERMAN | GEDE PUDJA | GEDONG BAGOES OKA | GEORGE ADRIAAN DE NEVE | GERARDUS MAYELA SUDARTA | GHEA SUKASAH | GOENAWAN PARTOWIDIGDO | GOENAWAN SUSATYO MOHAMAD | GOPE T. SAMTANI | GREGORIUS SIDHARTA SOEGIYO | GREGORIUS SUGIHARTO | GUFRAN DWIPAYANA | GUNAWAN SIMON | GUNO SAMEKTO | GUSTAAF HENDRIK MANTIK | Garin Nugroho | Gede Bayu Suparta | Graito Usodo | Gusnaldi


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq