
Nama : GUFRAN DWIPAYANA
Lahir : Jember, Jawa Timur, 12 Desember 1932
Agama : Islam
Pendidikan : -SD di Malang (1946)
-Anggota TRIP
-SMA di Semarang (1957)
-FH IPK UI di Jakarta (1964)
-Sekolah Penerangan di Magelang
Karir : -Tentara Pelajar (1947)
-Kepala Seksi Batalyon melawan DI di Jawa Barat (1954)
-Staf Penerangan Divisi Diponegoro di Semarang (1955)
-Perwira Pusat Penerangan AD/Redaksi Berita Indonesia/Berita Yudha (sampai 1971)
-Wakil Aspri Bidang Media Massa (1966-1969)
-Kepala Mass Media/Dokumentasi Sekneg (1969-1977)
-Direktur PPFN/Asisten Mensesneg Bidang Mass Media/Dokumentasi (1978-sekarang)
-PT Guna Press yang menerbitkan harian Jayakarta
Alamat Rumah : Jalan Gandaria IV No. 11, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 772853
Alamat Kantor : Jalan Merdeka Barat 15, Jakarta Pusat Telp: 371423 Jalan Otista Raya 125w127, Jakarta Timur Telp: 812508
|
|
GUFRAN DWIPAYANA
Pak Dipo menyukai perfeksionisme. Kamar kerjanya, misalnya, sangat rapi. Bahkan kamar mandinya diberi gorden berkembang- kembang. Begitu pula dalam membuat film. "Saya berusaha melengkapi keperluan pembuatan film sebaik-baiknya. Seperti untuk setting film Kereta Api Terakhir, gerbongnya kami buat khusus agar sesuai dengan suasana kurun waktunya," ujar Direktur Pusat Produksi Film Negara (PPFN) itu.
Ketika ia mulai memimpin PPFN, 1978, perusahaan film milik negara itu masih acak-acakan dalam segala hal, terutama disiplin. "Banyak pekerjaan terbengkalai, lantaran orang cuma main perintah," tutur Gufran Dwipayana, yang juga Kepala Dokumentasi & Media Massa Sekretariat Negara. Seorang atasan, menurut dia, harus mempunyai wewenang dan wibawa agar perintahnya dituruti. "Kunci keberhasilan PPFN, saya kira, adalah karena penguasaan masalah, secara organisasi dan kegiatan," katanya.Dalam masa kepemimpinan Dwipayana, PPFN berhasil memproduksikan sejumlah karya yang mendapat sambutan masyarakat -- paling menonjol adalah film boneka Si Unyil. Serial ACI (Aku Cinta Indonesia), yang tampil sejak 1985 di TVRI, juga menjadi acara yang makin dinantikan. Hanya film kartun Si Huma yang mungkin kurang mendapat sambutan.
"Saya ingin produksi PPFN dianggap ilmiah dan serius," katanya menanggapi pertanyaan mengapa namanya dicantumkan sebagai penanggung jawab setiap film produksi PPFN. Ia menunjuk film Kereta Api Terakhir, Serangan Fajar, Pengkhianatan G-30- S/PKI, dan Yuyun Pasien RS Jiwa. Film Yuyun, katanya, banyak ditonton oleh dokter dan psikiater -- dan mereka banyak bertanya. "Itulah sebabnya saya menyediakan diri sebagai penanggung jawabnya," kata Pak Dipo.
Anak kelima dari tujuh bersaudara ini dahulu bercita-cita menjadi insinyur. Di masa Revolusi Kemerdekaan ia masuk Tentara Pelajar, kemudian bergabung dengan TNI, dengan pangkat terakhir brigader jenderal. Pernah menjabat perwira penerangan AD, ia juga sempat memimpin surat kabar Sapta Marga dan Berita Indonesia.
Ayah empat anak ini pekerja keras. Ia berangkat dari rumah pukul 7 pagi, agar bisa membagi waktu untuk dua kantornya, di PPFN dan Setneg. Ia menjaga kesehatan dengan olah raga lari, tanpa meninggalkan kegemaran barunya: membuat keramik.
|