
Nama : WARDOYO
Lahir : Juwiring, Klaten, Jawa Tengah, 20 Agustus 1933
Agama : Islam
Pendidikan : -SD, Wonosari (1946)
-SMP, Solo (1950)
-SMA, Solo (1953)
-Fakultas Pertanian UGM, Yogyakarta (1962) ; Manajemen Personil, Jakarta (1967)
-Sespa Departemen Pertanian II, Jakarta (1975)
Karir : -Bagian Penyelidikan Gula Tebu Rakyat (1958-1959)
-Pusat Jawatan Pertanian Rakyat Pertanian Rakyat (1959-1962)
-Jawatan Pertanian Rakyat (1963-1965)
-Direktorat Pertanian Rakyat (1965-1967)
-Kasubdinas Pemasaran dan Kredit Tani Direktorat Pertanian Rakyat (1968)
-Kepala Dinas Kredit dan Sarana Produksi, Direktorat Ekonomi, -Direktorat Jenderal Pertanian (1968-1970)
-Asisten Pengendali Bimas (1970-1978)
-Sekretaris Badan Pengendali Bimas (1978-1983)
-Menteri Muda Urusan Produksi Pangan (1983 -- sekarang)
Alamat Rumah : Jalan Darmasari 1, Pasar Minggu, Jakarta Selatan Telp: 781086
Alamat Kantor : Jalan Imam Bonjol 29, Jakarta Pusat Telp: 337178
|
|
WARDOYO
Urusan pertanian baginya, bukan hal yang baru. Sudah digelutinya sejak kecil. Anak keempat dari sembilan bersaudara ini sering ditugasi ayahnya, Diposoemarto, lurah Desa Carikan, Klaten, menunggu saluran air di tengah persawahan sampai larut malam. "Berada di tengah sawah pada malam hari mempunyai kenikmatan tersendiri," tuturnya. "Apalagi kalau sedang terang bulan."
Meningkat remaja, ia menyaksikan para petani dipaksa menyerahkan hasil panennya kepada Jepang. Kalau tidak, mereka disuruh romusha, kerja paksa. "Saat itu segalanya serba sulit," cerita Wardoyo. Dalam keadaan seperti itu ia meneruskan SMP di Klaten, "Sembari membantu kakek jualan tahu goreng."
Awal zaman kemerdekaan, ia merasa malu bila tidak ikut perjuangan, melawan Belanda. Tetapi Wardoyo dianggap masih terlalu kecil. "Nanti malah merepotkan yang lain," ujar salah seorang kakaknya, Sunaryo, anggota Tentara Pelajar (TP). Tetapi tatkala Sunaryo luka, Wardoyo yang merawatnya. Sejak itu ia menggabungkan diri dalam Palang Merah Indonesia (PMI).
Selesai SMA di Solo, ayahnya menyarankan agar Wardoyo masuk ke fakultas kedokteran. "Saya sendiri ingin menjadi guru," ujarnya. Baik cita-citanya, maupun keinginan ayahnya, tidak terpenuhi. Ia masuk fakultas pertanian UGM dengan beasiswa. Tiap bulan ia menerima ikatan dinas sebesar Rp 310,00. Waktu itu, biaya mondok dan makan tiga kali sehari, cuma Rp 150,00.Sesudah lulus sarjana muda, Wardoyo segera bekerja di Bagian Penyelidikan Gula Tebu Rakyat, Jawatan Pertanian Rakyat di Solo. "Selain bisa membantu membelikan pakaian adik-adik, saya dapat menabung," tuturnya. "Cincin kawin saya beli dengan uang tabungan hasil ikatan dinas."
Lugu, penampilan dan sikapnya sederhana, ia memang seorang pekerja yang tekun. Pindah ke Jakarta, ia tidak beranjak dari lingkungan Departemen Pertanian. Berbagai jabatan dipangkunya, terakhir sebagai Sekretaris Badan Pengendalian Bimas, hingga 1983, sebelum menggantikan Ir. Achmad Affandi sebagai Menteri Muda Urusan Peningkatan Produksi Pangan.
Berbagai program dicanangkannya, antara lain perluasan sawah. Tetapi, pencetakan sawah sampai 1984 baru mencapai 193.583 ha. "Yang 111.200 hasil swadaya para petani," ujarnya. Targetnya sampai Pelita IV seluas 350 ribu ha. "Dengan kerja keras disertai pembaruan teknologi yang terus-menerus, peningkatan produksi pangan cukup meyakinkan," ujarnya optimistis. Wardoyo juga melaksanakan program efisiensi penggunaan air dengan proyek percontohan Pengelolaan Air Tingkat Usaha Tani Teladan (PATUT). Proyek ini diatur dengan pembentukan regu Tenaga Kerja Penggerak Masyarakat Tani (TKPMT). Ia memperkirakan pada 1987 bakal ada musim kering yang panjang. Dalam program perluasan areal padi gogo, ia mempertahankan swasembada yang sudah dicapai. "Kuantitas tetap penting, di samping meningkatkan kualitas," ucapnya. Ketika ditanyakan, mengapa kualitas beras petani di bawah standar Bulog, "Karena hama wereng biotipe 1, 2, dan 3, pemberantasannya belum bisa tuntas," jawabnya.
Menikah dengan Sawitri, pemegang bintang jasa Mahaputra ini dikaruniai lima anak. Pada hari libur Wardoyo sekeluarga biasa melakukan rekreasi. Pecandu wayang kulit ini mengagumi tokoh Gatotkaca. Falsafah hidupnya, "Manusia hendaknya mawas diri, harus meneladani dan diteladani," kata penggemar tenis yang sekarang suka jogging tiap pagi ini.
|