
Nama : WILLIAM SOERYADJAYA
Lahir : Majalengka, Jawa Barat, 20 Desember 1922
Agama : Protestan
Pendidikan : -SD, Kadipaten (1938)
-MULO, Cirebon (1942)
-Middelbare Vakschool V/d Leder & Schoen Industrie Waalwijk, Negeri Belanda (1949)
-Business Course di Amsterdam, Negeri Belanda
Karir : -Presiden Komisaris: Astra Group
-Summa Group
-PT United Tractors
-PT Nippondenso Indonesia
-PT Toyota Mobilindo Direktur Utama: PT Gaya Motor
-PT Federal Motor
-PT Multi Astra
-PT Daihatsu Indonesia
-PT Multi Agro Corp.
-PT GS Battery
-PT Kayaba Indonesia
Kegiatan Lain : -Ketua Kompartemen Pembinaan Pengusaha Kecil Kadin Indonesia
-Pelindung & Anggota International Council of The Asia Society-New York
-Anggota Pendiri Euro-Asia Center Inseat
-Anggota Board of Counselors dari Graduate School of Business Administration and School of Business University of Southern California, AS
-Anggota Dewan Penyantun Bakom PKB
-Wakil Ketua Yayasan Toyota Astra
-Ketua Badan Pendiri Yayasan Dharma Bhakti Astra
-Wakil Ketua I Badan Penyantun Yayasan Prasetiya Mulya
Alamat Rumah : Jalan St. Syahrir 27, Jakarta Pusat
Alamat Kantor : PT Astra International Inc. Jalan Ir. H. Juanda 22, Jakarta Pusat Telp: 375008
|
|
WILLIAM SOERYADJAYA
Pengusaha raksasa dari kelompok Astra ini mengaku merintis usahanya dengan penuh pahit getir. Yatim piatu pada usia 12, pada umur 19 tahun ia putus sekolah. Saat itu pula ia mulai berdagang. "Itu di zaman Jepang," kata Oom William, panggilan akrabnya kini. "Di daerah Cirebon terdapat kekurangan kertas bekas. Saya mencarinya di daerah Bandung, dan saya mengangkut kertas itu ke Cirebon dengan truk."
William juga berdagang benang tenun, untuk pabrik tenun di Majalaya. Lalu beralih ke hasil bumi, seperti minyak kacang, beras, dan gula. "Dengan berdagang, saya dapat membantu kehidupan saudara-saudara saya," tambah anak kedua dari lima bersaudara keluarga pedagang ini.
Dengan perolehan dari hasil dagang itu pula ia melanjutkan studinya ke Negeri Belanda. Di sekolah vak v/d Leder & Schoenindustrie, William mempelajari penyamakan kulit. Pulang ke Indonesia, 1949, Tjia Kian Liong -- nama asli William -- mendirikan pabrik kulit, yang pengurusannya kemudian ia serahkan kepada seorang kawannya. Tiga tahun kemudian pria kelahiran Majalengka, Jawa Barat, itu mendirikan CV Sanggabuana, yang bergerak di bidang perdagangan dan impor- ekspor. Tetapi ia tertipu oleh rekan usahanya sendiri. "Rugi jutaan DM," tuturnya.
PT Astra International Inc. didirikannya pada 1957, bersama adiknya, Drs. Tjia Kian Tie, almarhum, dan seorang kawannya, Lim Peng Hong. Mula-mula hanya memasarkan minuman ringan, merk Prem Club, lalu diteruskan dengan mengekspor hasil bumi, termasuk minyak serai. Kelompok ini kemudian menjadi "pohon rindang", seperti yang ditamsilkan William sendiri, yang memang kian berkembang. Bidang garapannya meluas ke sektor otomotif, alat-alat berat, perkakas kantor, dan perkayuan. Ia menyebut keberhasilan Astra sebagai buah kebijaksanaan Pemerintah Orde Baru, yang memberi kesempatan kepada dunia usaha untuk berkembang.
Sukses bidang otomotif dimulai pada 1968-1969, saat Oom William memasukkan 800 truk Chevrolet, yang bertepatan waktunya dengan program rehabilitasi besar-besaran pemerintah. "Truk sangat dibutuhkan waktu itu, hingga larisnya seperti pisang goreng," ujar presiden direktur dan presiden komisaris belasan perusahaan yang bernaung di Astra Group itu. Dengan kurs rate BE, kredit melonjak dari Rp 141 ke Rp 378 per dolar Amerika, "Bisa dibayangkan berapa keuntungan kami." Sejak itu Astra menjadi rekanan pemerintah untuk berbagai sarana pembangunan.
Tahap berikutnya, Astra mulai merakit truk Chevrolet. Dan selanjutnya, mengageni dan merakit alat besar Komatsu, mobil Toyota dan Daihatsu, sepeda motor Honda, dan mesin kopi Xerox. "Inilah tulang punggung Astra," kata Wiliam.
Tentu tidak itu saja. Kelompok yang memiliki omset sekitar 1,5 milyar dolar Amerika itu juga bergerak di bidang agribisnis. "Agribisnis yang mengusahakan peningkatan produksi pada sektor pertanian itu merupakan gagasan pemerintah yang patut ditanggapi oleh berbagai kalangan wirausahawan Indonesia," kata William dalam ceramahnya di Universitas Katolik Parahyangan, Januari 1984. Astra sendiri telah membuka kawasan pertanian kelapa dan casava seluas 15.000 ha di Lampung, yang menyerap sekitar 23 ribu pekerja.
Pada 1984, terbetik berita bahwa William menjadi pemilik saham terbesar di Summa Handelsbank Ag, Dusseldorf, Jerman Barat. Bank yang secara organisatoris tidak ada hubungannya dengan Astra ini dipimpin -- dengan jabatan presiden -- oleh Edward Soeryadjaya, anak William, sarjana ekonomi lulusan Jerman Barat. Di bank itu, William memiliki 60% saham yang dibagi rata dengan dua orang anaknya.
Walaupun sudah menjadi pengusaha besar, William masih suka memperhatikan rekan-rekannya yang kecil. Dalam tulisannya, Peranan Pengusaha Besar dalam Kerja Sama dengan Pengusaha Kecil demi Suksesnya Pelita IV, yang dimuat Suara Karya, 24 Maret 1984, ia antara lain mengemukakan bentuk-bentuk bantuan perusahaan besar kepada perusahaan kecil. Di dalamnya, ia menyebut peranan perusahaan besar sebagai market perusahaan kecil. Misalnya berupa dealership dan menjadikan perusahaan kecil bagian service network produk perusahaan besar.
Ia juga menaruh perhatian di bidang pendidikan. November 1984, Oom William merelakan menjual sebidang tanah miliknya di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, dengan harga "miring". Di sanalah didirikan gedung Institut Manajemen Prasetia Mulya, yang diresmikan November 1984. "Di sini dididik para manajer dari berbagai perusahaan nasional," kata William, yang di institut itu menjabat wakil ketua dewan pembina.
Penerap sistem manajemen Barat yang dikombinasikan dengan gaya berusaha orang Cina ini dikenal sebagai pengusaha yang religius. Setiap hari Minggu, penganut Protestan ini selalu ke gereja. Pria yang konon tidak pernah menolak permintaan bantuan orang itu suka menyumbang untuk pembangunan tempat-tempat ibadah. Ia juga pandai bersyukur. "Keberhasilan Astra berkat kerja keras seluruh karyawan dan rahmat Tuhan, bukan karena keberhasilan saya pribadi," kata ayah empat anak ini.
Dalam hari ulang tahun Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), 1983, William menjadi salah seorang penerima penghargaan dari Kadin untuk jasanya di bidang pendidikan. Sembilan bulan sebelumnya, ia dipilih sebagai anggota dewan penyantun The Asia Society, yang didirikan oleh John. D. Rockefeller III di New York, AS, 1956. Itu adalah kesempatan pertama bagi orang Asia. William, yang telah bergabung dengan Golkar, juga satu-satunya orang luar Amerika yang menjadi anggota dewan penasihat School of Business Administration, University of Southern California, AS.
Ayah empat anak ini gemar berolah raga, terutama tenis.
|