
Nama : ANTON SOEDJARWO
Lahir : Bandung, Ja-Bar, 21 September 1930
Agama : Islam
Pendidikan : - SD, Cilacap (1945)
- SMP, Purworejo (1949)
- SMA, Magelang (1952)
- Sekolah Inspektur Polisi, Sukabumi (1954)
- Pendidikan Rangers SPMB, Porong (1960)
- Sekolah Infanteri Officer Orientation, Fort Benning, AS (1961)
- Susbanhan (1965)
- Pendidikan Para Dasar, Margahayu (1967)
- Seskoak RC IV di Lembang (1968)
- Pendidikan Jump Master, Sukabumi (1969)
Karir : - Kepala Polisi Palopo, Sul-Sel (1954)
- Ajudan Kepala Kepolisian Negara (1956)
- Kepala Polisi Lalu Lintas, Makassar (1956)
- Anggota Biro Organisasi Mabes Polri (1957)
- Dan Kompi 5995 Rangers Brimob, Jakarta (1959)
- Danyon 32 Menpor, Jakarta (1962)
- Dan Menpor, Jakarta (1964)
- Dan KP-3, Tanjungpriok (1971)
- Dan Resor 102, Malang (1972)
- Dan Brimob, Jakarta (1974)
- Kadapol XI Kal-Bar (1975)
- Kadapol II Sum-Ut, Medan (1977)
- Kadapol Metro Jaya (1978-1982)
- Kapolri (1983-1986)
Kegiatan Lain : - Ketua Umum PBVSI
Alamat Rumah : Jalan Ampera 125, Pasar Minggu, Jakarta Selatan Telp: 782404
Alamat Kantor : Jalan Trunojoyo 3, Jakarta Selatan Telp: 348537, 701-2-100
|
|
ANTON SOEDJARWO
Ketika ia mulai menjadi orang pertama di kepolisian, instansi itu mendapat wewenang dan tanggung jawab yang sangat besar, sesuai dengan hukum acara pidana (KUHAP): sebagai penyidik tunggal. Dan risikonya, "Kami yang paling banyak dikritik," kata Anton Soedjarwo, yang menjadi Kapolri sejak 1982.
Menanggapi kritik masyarakat, jenderal ini menganggap perlu melihat keadaan bangsa Indonesia sendiri. "Juga masyarakat -- apa mereka sendiri tidak sering melanggar aturan," ujarnya. Ia menunjuk pelanggaran lalu lintas di jalan-jalan. "KUHAP sendiri suatu kemajuan. Tetapi, untuk kemajuan itu bisa muncul berbagai persoalan," tambah Anton, yang bertubuh tinggi besar dan bermisai lebat. Ia menilai, pelaksanaan KUHAP pada tahun berlakunya memang masih kacau, tetapi kini (1985) sudah lebih baik.
Tampaknya, dari masa kecil ia sudah bercita-cita menjadi polisi. Mendapat pendidikan sekolah dasar sampai menengah di Jawa Tengah, Anton kemudian pergi ke Sukabumi, Jawa Barat, untuk masuk Sekolah Polisi, yang diselesaikannya pada 1954. Pernah mengikuti kursus orientasi di Fort Benning, AS, pada 1968 ia menempuh pendidikan Seskoak di Lembang, Bandung.
Awal masa tugasnya dimulai di Palopo, Sulawesi Tengah, sebagai kepala polisi wilayah setempat. Bekas Komandan Resimen Pelopor Brimob ini tiga kali menjabat Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda), masing-masing di Kalimantan Barat, Sumatera Utara, dan Metro Jaya.
Seiring dengan makin beratnya tugas kepolisian, ia mulai menjuruskan arah pembangunan jangka panjang Polri, yaitu menuju postur polisi yang terampil, tangguh, tanggap, berwibawa, dicintai rakyat, dan mampu melaksanakan tugasnya. Dalam membangun Polri, menurut dia, digunakan pendekatan bottom up -- lapisan bawah berkuantitas besar dengan kualitas mendasar, semakin ke atas berkuantitas kecil dengan kualitas tinggi, dan berpegang pada prinsip selektivitas dan prioritas.
Ini diikuti dengan reorganisasi Polri, Juni 1985, antara lain dengan mengalihkan organisasi Polri dari tipe "staf umum" menjadi "tipe direktorat", sehingga setiap direktur memiliki tanggung jawab dan peranan yang lebih khusus. Dalam penampilan, polisi juga dibenahi. Polisi bukan militer, menurut Anton, sehingga penampilannya tidak perlu seperti tentara. "Army look, no!" katanya. "Senjata pun tidak perlu army look."
Sambil menyatakan perang terhadap narkotik, judi, dan kriminalitas, pertengahan 1985 Polri melancarkan penertiban lalu lintas, yang dinamai Operasi Zebra. Operasi yang berlangsung serentak di seluruh Indonesia itu tampak lebih tegas dari berbagai operasi lalu lintas sebelumnya. Ia juga mewajibkan seluruh pengendara sepeda motor memakai helm, dimulai secara bertahap.
Anton berusaha keras mengubah citra polisi yang sempat buram. Dalam masa Operasi Zebra, ia telah menindak sejumlah polisi yang menyalahgunakan wewenang pada saat bertugas.
Ketika berlangsung tour "Aku Cinta Operasi Zebra '85", September 1985, Anton terlihat ikut. Berjaket hitam dan bercelana biru, ia mengendarai sepeda motor Honda 6 silinder. "Sejak remaja, saya sudah senang naik sepeda motor. Dulu, pacaran juga naik sepeda motor," ujar ayah dua anak dan juga ketua umum organisasi bola voli (PBVSI) itu.
Namun, yang paling digemarinya adalah memelihara hewan di rumah peristirahatannya di Jagakarsa, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Anton memiliki 25 kandang yang berisi bermacam burung, dari perkutut, beo, cucakrawa, jalak, nuri, beo, sampai burung dara. Di samping itu, terdapat pula 20 ekor kuda, dua sapi perah, dua anjing dobberman, dan kolam kodok, serta tikus putih.
UPDATE:
Anton Soedjarwo meninggal Senin siang, 18 April 1988, pukul 12.31. Almarhum tutup usia di Rumah Sakit Polri Kramat Jati Jakarta Timur, pada usia 58 tahun, setelah dirawat 45 hari karena menderita komplikasi beberapa penyakit.
|