
Nama : Arbi Sanit
Lahir : Painan, Sumatera Barat, 4 Juni 1939
Agama : Islam
Pendidikan : - SD di Sumatera Barat (1954)
- SMP di Sumatera Barat (1957)
- SMA di Sumatera Barat (1962)
- Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UI (1969)
- University of Wisconsin (1974)
Karir : - Pengajar pada FISIP UI (1967-sekarang)
- Dekan FISIP UI
Kegiatan Lain : - Manajer Kurikulum untuk Konsorsium Ilmu Sosial, Departemen Pendidikan (1980-1985)
- Wakil Sekretaris Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (1985-1990)
- Wakil Ketua Lembaga Politik PP Muhammadiyah (1990-1995)
Karya : Karya tulis:
€“ Pendekatan Sistem Politik Indonesia (1980)
- Sistem Politik Indonesia, Kestabilan, Peta Kekuatan Politik dan Pebangunan (1981)
- Perwakilan Politik di Indonesia (1985)
- Swadaya Politik Masyarakat (1985)
- Golput (1992)
- Ormas dan Politik (1985)
- Partai, Pemilu dan Demokrasi (1997)
- Reformasi Politik (1998)
- Pergolakan Melawan Kekuasaan (1999)
- Badai Revolusi, Sketsa Kekuatan Politik PKI di Jawa Tengah dan Jawa Timur (2000)
Penghargaan : - Lencana Kesetiaan Dwidya Sistha, Menteri Pertahanan/Keamanan (1981, 1983, 1936)
- Penghargaan 25 Tahun Masa Dinas di Fakultas Ilmu Sosial, UI (1993)
- Man of the Year for Prominent Political Analysis Meritorious Foundation and Seven Production Studio (2000)
Keluarga : Ayah : Mohammad Sanit (almarhum)
Ibu : Siti Alamah
Istri : Ayunis Samah
Anak : Alfar Yusar Sanit
Alamat Rumah : Kompleks Dosen UI No. 29, Ciputat 15419
Telepon (021) 7427568
|
|
Arbi Sanit
ARBI tidak menyukai nama Arbi Akhir, pemberian ayahnya. Maka, waktu hendak masuk SMP ia mengganti namanya dengan Arbi Sanit€” nama belakangnya ini nama ayahnya, Muhammad Sanit. €œKarena saya pikir seperti mau berakhir saja,€ Arbi memberi alasan.
Ternyata €œArbi Sanit€ tetap bertahan sampai ia menjadi dosen Fisip UI dan, hingga kini, terkenal sebagai kolumnis dan pengamat politik.
Cita-cita Arbi sebenarnya hendak jadi seniman, sebab dari SD sudah senang menggambar dan melukis dengan cat air. Lulus SMA di Sumatera Barat, anak kelima dari 11 bersaudara ini ingin masuk sekolah seni rupa di Yogyakarta. Namun ke Yogya terlalu besar biayanya, hingga Arbi menyusul kakak keduanya di Jakarta. Cita-cita jadi seniman pun ia lupakan dan Arbi mengubah haluan: ingin jadi birokrat.
Karena itu, ia masuk jurusan Ilmu Politik UI (dulunya Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan). Lulus pada 1969, dengan skripsi tentang kekuatan PKI di Jawa Tengah (kini diterbitkan dengan judul Badai Revolusi), Arbi memulai karir sebagai asisten dosen Miriam Budiardjo, sambil bekerja sambilan di perusahaan pelayaran Jakarta Loyd. Baru pada 1985, ia diangkat jadi dosen UI, yang dijalaninya hingga sekarang.
Nama Arbi mulai dikenal sebagai pengamat politik sejak ia kerap diwawancarai oleh temannya yang wartawan Kompas, Hasan Basyari. Baik tentang masalah-masalah politik maupun sosial, dan rata-rata berbau kritik terhadap kebijakan Soeharto. Dan ia pun mulai dikenal, dan katanya, €œSetelah itu media lain mulai mewawancarai saya,€ ujarnya. Selanjutnya, Arbi pun kerap diundang berbicara dalam forum-forum diskusi, seminar, atau talk show. Dalam setiap diskusi atau wawancara, ia selalu ingin berbeda dengan yang lain. €œPada tiap wawancara, saya hanya mengeluarkan apa yang terpikirkan. Karena saya ingin kreatif dan tidak terhalangi dengan ketakutan,€ ujarnya.
Komentar-komentarnya memang cukup keras, baik yang diutarakan melalui kolom-kolom yang tersebar di berbagai media maupun dalam berbagai diskusi dan wawancara. Kebiasaan itu sering mengundang risiko. Istrinya pernah diteror melalui telepon. Ketika mengeritik seorang kiai pendukung Soeharto, Arbi dikatakan halal darahnya. Pernah pula dipanggil oleh Sekjen Departemen P & K, pada masa Menteri Daoed Joesoef, dan diminta agar tulisan-tulisannya tidak sering bersifat mengecam. Sampai-sampai, pada 1989, Arbi disuruh berhenti mengajar sistem politik Indonesia di FISIP UI. Risiko lain: jabatannya sulit naik. Terakhir jabatannya lektor kepala.
Apa pun risikonya, Arbi cukup menikmati profesi tersebut. €œKetika kita selesai membuat suatu kajian, tulisan, lalu dimuat, itu kan bisa menghasilkan. Walaupun jumlahnya tidak besar, artinya kita dihargai,€ ujarnya. Ia pun senang kalau ada undangan ke luar daerah, karena akan memperoleh pengalaman dan teman baru, serta refreshing gratis. Mengaku hidupnya memang dari profesinya itu, €œKarena gaji saya hanya untuk seminggu. Saya terus bekerja kapan pun.€ Kalau menulis, Arbi biasa melakukannya di perpustakaan pribadi.
Dalam pengamatannya tentang politik Indonesia sekarang, reformasi dewasa ini telah mandek. €œMalah banyak perubahan dalam konstitusi. Buat saya ini mundur,€ ujarnya. UUD 45, menurut dia, berjiwa otoriter, dan telah menghasilkan dua rezim diktator. €œBerdasarkan itu masak kita mau memelihara UUD seperti itu,€ komentar pengagum Hatta dan Sjahrir ini.
Arbi hobi menata taman. Rumahnya di kompleks dosen UI di Ciputat, Tangerang, yang tanpa pagar agar terkesan lebih luas, Arbi sendiri yang menata tamannya. Lelaki yang memegang moto istiqomah (konsisten) berpenampilan agak eksentrik, supaya tidak sama dengan orang lain. Ia suka pakai rompi dan jas, dengan rambut panjang ke belakang.
Orangtuanya memiliki sebelas anak. Tapi mengapa suami Ayunis Samah ini hanya punya seorang anak? €œSeharusnya jumlah keluarga disesuaikan dengan kemampuan ekonomi,€ ujar ayah dari Alfar Yusar Sanit ini. €œMakanya saya punya anak satu orang saja.€
|