
Nama : Abdul Mun'im Idries
Lahir : Pekalongan, Jawa Tengah, 25 Mei 1947
Agama : Islam
Pendidikan : - SD Negeri Taman Sari I Pagi, Jakarta (1959)
- SMPN IV, Jakarta (1962)
- SMAN X, Jakarta (1965)
- FKUI (dokter umum/S1), (1971)
- FKUI (dokter spesialis forensik/S2; 1979)
- Kursus Purna Sarjana dalam bidang patologi kesehatan penerbangan, Lakespra Saryanto (1975)
- Kursus Daktiloskopi, Lab. Krim. Mabak Polri (1980)
- Program Akta Mengajar Lima Format Belajar Jarak Jauh (1982/1983) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen P&K
Karir : - Asisten ahli madya pada bagian I Kedokteran Kehakiman FKUI (1973)
- Asisten ahli pada bagian I Kedokteran Kehakiman FKUI (1975)
- Lektor muda pada bagian I Kedokteran Kehakiman FKUI (1977)
- Lektor madya/penata tingkat I pada bagian Kedokteran Kehakiman FKUI (1979)
- Lektor/pembina pada bagian I Kedokteran Kehakiman FKUI (1986)
- Ketua Tim Pemeriksa di TKP (LKUI-IKF FKUI-PMJ), (1979€“sekarang)
- Koordinator Riset pada bagian IKK-IKF FKUI
- Koordinator II Lembaga Kriminologi UI (1976-1978)
- Sekretaris Bidang Akademis Lembaga Kriminologi UI (1979€“1983)
- Ketua BPA (MP2A) IDI Wilayah DKI Jaya (1982€“sekarang)
- Anggota Dewan Pertimbangan Anggota IDI Jaya (1990)
- Konsultan Disdokkes PMJ (1996€“sekarang)
- Anggota penguji tesis peserta S2 Program Studi Ilmu Biomedik Program Pascasarjana UI (1994)
- Penguji NB/CMS E-4B tahun 1979€“1983
- Dosen Kedokteran Forensik di Pusdiklat Kejaksaan Agung RI untuk pendidikan pembentukan jaksa angkatan II (1995/1996€“sekarang)
- Dosen Kedokteran Forensik pada Susjabkimmil XI T.A. (1998/1999€“sekarang)
- Babinkum ABRI
- Dosen kedokteran forensik pada penataran pengacara muda, LBH Jakarta (1980€“1982)
- Dosen kedokteran forensik pada FK Swasta : Trisakti, Atmajaya, Ukrida, Yarsi, dan UPN
- Anggota bidang hukum dan pembelaan anggota Ikatan Rumah Sakit Jakarta Metropolitan (1997€“2000)
- Pengajar dan ketua pelaksana Kursus Peningkatan Pengetahuan Wartawan dalam Bidang Ilmu-Ilmu forensik I-IV (UI-PWI)
Karya : Buku :
1. Kecelakaan, Pembunuhan, dan Bunuh Diri di Jakarta (LKUI, 1978)
2. Pembunuhan dan yang Diduga Korban Pembunuhan di Jakarta 1968-1977 (LKUI, 1979)
3. Pedoman Praktis Ilmu Kedokteran Kehakiman bagi Penyidik (LKUI-Komdak Metro Jaya, 1979)
4. Ilmu Kedokteran Kehakiman (Toksikologi); LKUI Gunung Agung, 1979
5. Penerapan Ilmu Kedoteran Kehakiman dalam Proses Penyidikan (Karya Unipres, 1982)
Keluarga : Ayah : H. Iskandar Idries, Sp.F.
Ibu : Hj. Siti Aisyah
Istri : Hj. Kiswaty Ratu Mustika
Anak : 1. dr. Agus Thoriq, Sp.O.G.
2. Amir Kurniadi
3. Dra. Elita Mirnawaty
4. Adi Lesmana
5. Rasnika H. Handayani, S.E.
Alamat Rumah : Jalan Angsana Hijau I, Duri Kosambi, Blok G1/9, Jakarta 11750
Alamat Kantor : Bagian Kedokteran Forensik FKUI-RSCM, Jakarta
|
|
Abdul Mun'im Idries
Merasa jijik melihat semut di nasi, nafsu makannya pun hilang. Itu masa kecil Abdul Mun'im Idries, ahli forensik dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Tentu, kini ia tak jijik lagi. Sudah ribuan mayat pernah ia bedah, bahkan yang kondisinya paling buruk: terpotong-potong dan membusuk. Kasus-kasus besar pun ikut dia tangani, seperti mayat korban sodomi Robot Gedek, korban penembakan Trisakti, Marsinah, dan tokoh Papua Thyes.
Lewat otopsi atau bedah mayat, Mun'im bertugas menentukan ciri-ciri mayat: perkiraan tinggi badan, umur, jenis kelamin, perkiraan saat dan penyebab kematian. Data-data itu sangat penting bagi polisi yang menyidik dan mengusut perkara pembunuhan.
Tidak takut mayat? €œMasak takut pada orang mati yang sudah tidak punya akal,€ ujar Mun'im. Tapi kalau masalah bau mayat yang baru digali dari kuburan, €œPulang dari tugas, saya harus mandi bersih dan keramas. Tidak boleh buka baju di depan istri, karena baunya menempel di badan.€
Sekilas, sosoknya serius dan kaku. Padahal Mun'im sebenarnya peramah, tenang, dan suka bercanda. Karena penampilannya eksentrik, oleh kalangan polisi ia beroleh julukan: dokter koboi. Ia pun mengaku dirinya konyol. Walaupun sudah beristri Kiswaty Ratu Mustika€”bekas teman kuliah yang sering bertemu tatkala demonstrasi€”dan dikaruniai lima anak, Mun'im mengaku pernah kasmaran pada gadis belia penyanyi bar. Tapi setelah sepuluh tahun berhubungan, sekarang sudah diputus.
Karena kekonyolan itulah, ketika ditawari gelar profesor doktor, ia menolak. Ia merasa tak pantas menerima gelar tersebut. Lalu Mun'im merekomendasikan kakaknya, Dadang Hawari, untuk memperoleh gelar bergengsi tersebut.
Ia anak keenam dari sebelas bersaudara. Nama Abdul Mun'im diambil dari nama ketua delegasi Liga Arab yang datang ke Yogyakarta untuk memberi pengakuan kemerdekaan kepada Indonesia. Sejak kecil hidupnya biasa saja, ia dibesarkan di kawasan Kota, Jakarta Barat, di lingkungan keluarga sederhana tapi disiplin. Ayahnya Let-Kol H. Iskandar Idries, Sp.F., sudah meninggal. Dari SD sampai SMA, pergi ke sekolah ia berjalan kaki. Tidak pernah diberi uang jajan banyak, karena €œAyah saya tidak punya uang.€
Meski pernah ikut grup band dan manggung di kampung-kampung, Mun'im tak ingin jadi pemusik. Cita-citanya ketika SMP: menjadi masinis. €œTapi ketika SMA nilai mata pelajaran kimia saya bagus, makanya saya mau jadi ahli kimia,€ ujar Mun'im. Gagal kuliah di ITB karena terbentur biaya, ia masuk Fakultas Kedokteran UI, lulus tahun 1971 sebagai dokter umum. Gelar dokter spesialis forensik diraihnya pada 1979.
Selain mengajar dan praktik di Bagian Kedokteran Forensik FKUI-RSCM Jakarta, Mun'im juga menulis sejumlah buku.
Hobinya memancing di laut, baca buku€”paling suka baca buku Kahlil Gibran, penyair dan novelis berdarah Libanon. House music adalah musik kegemarannya. Ia punya CD house music berseri lengkap di rumahnya. Makanan favoritnya? €œYang namanya makanan, enak tidak enaknya tergantung siapa yang menemani kita makan. Kalau yang nemenin kita nenek-nenek, ya, jadi tidak enak,€ katanya berseloroh.
|