
Nama : Amir Syamsuddin
Lahir : Ujungpandang, Sumatra Selatan, 27 Mei 1941
Agama : Islam
Pendidikan : - Fakultas Hukum UI (1983)
- Pascasarjana UI (S2)
Karir : Advokat (sejak 1983-sekarang)
Kegiatan Lain : - Pengurus Peradin
- Anggota Dewan Kehormatan Ikadin
Keluarga : Ayah : Nazaruddin Dg Mamangung
Ibu : Andi Bulaeng Dg Nipati
Anak : 1. Amiruddin Syam S.
2. Didi Irawadi S.
3. Teddy Taufik S.
4. Ade Ratih S.
5. Ade Yasmine S.
6. J. Indra Syamsudin
7. J. Karina S.
Alamat Rumah : Jalan Anyer No. 10, Puri Cinere, Bogor, Jawa Barat
Alamat Kantor : Menara Sudirman 9th Fl, 9A, C, D, Jalan Jenderal Sudirman Kav.60, Jakarta Selatan
Telepon 5227020
Faksimile 5220840
|
|
Amir Syamsuddin
Amir Syamsuddin
Amir Syamsuddin kerap menangani kasus-kasus besar yang menarik perhatian publik. Sebut kasus TEMPO kala digugat pengusaha Probosutedjo, kasus €œsurat sakti€ Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo), dan kasus narkotika Okky. Kala Zarima tersandung kasus ekstasi di Amerika, papar pengacara kondang itu, €œDia menelepon saya pada suatu malam dengan sesenggukan dan meminta saya datang.€ Amir pun menyempatkan diri menjemput Zarima dari Amerika.
€œSemua itu seperti air mengalir saja, tidak perlu saya pasang bendungan atau perangkap,€ komentar Amir tentang karirnya sebagai pengacara. Sampai akhirnya ia menangani kasus Akbar Tandjung yang tersandung kasus penyelewengan dana non-bujeter Bulog, yang lebih dikenal sebagai Buloggate.
Baginya, yang paling berat adalah kasus Ajinomoto, 2001. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengatakan bahwa Ajinomoto haram, sementara Presiden (waktu itu) Abdurrahman Wahid menyatakannya halal. Sedangkan Amir harus meminta kliennya agar menarik semua produk Ajinomoto di seluruh Indonesia, dalam waktu 30 hari. €œBagaimana saya harus menyakinkan klien saya dan bersiap menanggung rugi yang tidak kecil.€ Setelah pihak Ajinomoto meniadakan enzim babi dalam proses fermentasinya, barulah MUI mengeluarkan sertifikasi halal.
Namun, kasus kecil pun ia tangani: membela seorang janda yang mantan suaminya ia tuduh ingkar janji. Soalnya, si lelaki berusaha agar perkawinan mereka €”yang sudah berlangsung puluhan tahun dan punya anak banyak€” dianggap tidak sah. Dengan cara itu, lelaki itu merasa memiliki alasan tidak berbagi harta dengan bekas istrinya. €œSaya harus mencari saksi dan penghulu atas pernikahan mereka,€ tutur Amir.
Sebagai pengacara, Amir tak luput dari teror, termasuk teror pembunuh bayaran yang datang ke kantornya. Bukannya Amir memanggil bagian keamanan, tapi ia mengajaknya masuk ke sebuah ruangan dan mengunci dari dalam. Hanya berdua di ruangan itu, lalu Amir menguji tekad si pembunuh bayaran. Akhirnya upaya pembunuhannya urung terjadi.
Sewaktu kecilnya, Amir tidak terpikir menjadi pengacara; ia justru mengagumi profesi jaksa. Walaupun ia digembleng ayah tiri dan harus membantu seorang pamannya mengurusi kerbau, Amir kecil masih punya waktu menyalurkan kegemaran membaca. Di bawah penerangan lampu teplok, papar anak kesembilan dari 10 bersaudara yang paling suka cerita sejarah itu, €œSaya bisa membaca dari pagi sampai malam. Saya biasa membaca karya Charles Dickens.€
Kebiasaan membaca itu tentu saja sangat mendukung pendidikannya, yang ternyata selalu lancar. Selepas dari SMA, dalam keadaan sudah berkeluarga dan sambil bekerja, ia kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, selesai 1983. Bekerja sebentar di kantor pengacara O.C. Kaligis, ia kemudian (1984) membuka kantor Amir Syamsuddin & Partner di Cikini, Jakarta Pusat. €œKegemaran saya membaca sangat memotivasi saya dalam hal ini,€ katanya.
Keberuntungan demi keberuntungan mengalir seperti air. Selesai kuliah, seorang teman menyediakan ruang untuk kantor pengacaranya. Kemudian, Karni Ilyas, waktu itu wartawan senior di majalah TEMPO merekomendasikan Amir selaku pembela majalah tersebut ketika digugat oleh Probosutedjo. Padahal banyak pengacara senior yang datang ke TEMPO dan siap menjadi pembelanya. Dan namanya langsung melesat. €œDan saya beruntung bisa memberikan presentasi di depan orang-orang pintar seperti Goenawan Mohamad, Eric Samola, Fikri Jufri,€ tuturnya.
Di dalam keluarganya, ia mengaku bukan suami yang ideal. €œSaya pernah menjadi ayah yang otoriter,€ ungkap ayah tujuh anak dari tiga orang istri ini (dari istri pertama, empat orang; istri kedua, satu orang; istri ketiga, dua orang.) Menyadari hal itu, ia banyak membaca dan meningkatkan mutu keayahannya. Konflik dengan anak, ia sadari, karena €œSaya tidak dewasa sebagai bapak. Kecenderungan otoriter itu disebabkan saya terlalu menuntut mereka supaya sesuai dengan yang saya inginkan.€
Tokoh yang paling dikaguminya adalah Suardi Tasrif, karena pengacara yang juga wartawan senior ini sangat menjaga mutu kepengacaraannya. €œPenguasaan dia akan doktrin hukum, yurisprudensi, asas hukum sangat komplet,€ begitu alasannya. Amir melakukan olahraga golf di akhir minggu, dan renang dari sore sampai malam di kolam pribadi di rumahnya.
|