
Nama : IBNU SUTOWO
Lahir : Grobokan, Jawa Tengah, 23 September 1914
Agama : Islam
Pendidikan : - Europeese Lagere School (1926)
- MULO
- AMS-B
- NIAS, Surabaya
Karir : - Dokter di Palembang (1940)
- Dokter di Martapura (1940-1942)
- Kepala Rumah Sakit Umum (RSU) Plaju
- Kepala RSU Palembang
- Kepala Jawatan Kesehatan Tentara se-Sumatera Selatan (se-Sum- Sel) (1946-1947)
- Kepala Staf Subkomando Sum-Sel
- Kepala Staf Daerah Militer Istimewa Sum-Sel (1947-1948)
- Kepala Staf Brigade Teritorial Sum-Sel dan Jambi (1951)
- Kepala Jawatan Kesehatan Tentara TT-I di Medan
- Panglima TT-II Sriwijaya (1956-1957)
- Anggota Staf Umum AD
- Deputi Operasi/Peperpu KSAD Direktur PT Tambang Minyak Sumatera Utara (PT Permina) (1957)
- Dirut Pertamina (sampai 1976); Presiden Komisaris PT Indobuildco (1975 -- sekarang)
- Preskom PT Nugra Santana (Sekarang)
Kegiatan Lain : - Pendiri Yayasan Pendidikan Quran (1969)
- Pendiri PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Quran) (1971)
Alamat Rumah : Jalan Tanjung 16, Jakarta Pusat Telp: 348096, 348750
Alamat Kantor : Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan Telp: 583061
|
|
IBNU SUTOWO
Niatnya untuk beristirahat setelah pensiun, ternyata, tidak terkabul. "Cuma tahan satu tahun," katanya. "Lalu ikut- ikutan bisnis dengan anak-anak." Bekas Presiden Direktur Pertamina ini tinggal berdekatan dengan tujuh putra-putri dan para menantunya, di Menteng, Jakarta Pusat.
"Pokoknya, saya mau bisnis selama Tuhan mengizinkan. Dan saya ingin, kalau nanti mati, jangan pakai sakit," ujar kakek 17 cucu ini. PT Indobuildco didirikannya tatkala ia masih di Pertamina. Ia membangun Garden Tower dan memperluas Hotel Hilton, sejak 1983. Biaya membangun sebuah kamar de luxe dan suite, konon, menelan US$ 100 ribu. Padahal, kompleks perluasan yang kemudian bernama Garden Tower, selain membangun 213 kamar, pent house di tingkat paling atas yang dikelilingi taman bunga, juga sebuah helipad -- tempat helikopter mendarat.
Sebagai anak ketujuh Raden Sastrodiredjo, bekas wedana dan keturunan ke-13 Sultan Pajang, ia tidak mengalami banyak kesulitan masuk sekolah. Ia sepuluh tahun belajar di NIAS Surabaya, setelah meraih gelar Indisch arts, melakukan masa dinas kedokteran di Palembang dan Martapura. Pada masa Kemerdekaan, ia berturut-turut menjadi Kepala Rumah Sakit Umum Plaju, Palembang, dan Kepala Jawatan Kesehatan Tentara se- Sumatera Selatan.
Berpangkat mayor tituler, ia sempat ikut bergerilya ketika Agresi Militer Belanda II, lantas bertugas di Medan sebagai Kepala Jawatan Kesehatan Tentara T&T Sumatera Utara. Tetapi, tidak lama, ia kembali ke Sumatera Selatan, memangku jabatan Panglima TT II. Ia ditunjuk KSAD waktu itu, A.H. Nasution, untuk mengelola PT Tambang Minyak Sumatera Utara (PT Permina), 1957.
Dengan bantuan Mayor Harijono, Mayor Geudong, dan J.M. Pattiasina, ia berhasil mengembangkan perusahaan itu. Nama PT Permina diubah menjadi PT Pertamina, kemudian juga bergerak di bidang usaha nonminyak, seperti real estate, angkutan udara, pabrik baja, dan rice estate. Pecah kemelut Pertamina akibat menimbun banyak utang, ia menyerahkan jabatannya kepada Piet Haryono awal 1976.
Dikenal banyak beramal, ia melengkapi Yayasan Pendidikan Alquran, yang didirikannya pada 1969, dengan gedung laboratorium bahasa Alquran senilai Rp 115 juta, 1983. Untuk Perguruan Tinggi Ilmu Quran (PTIQ) ia mengeluarkan dana Rp 6 juta tiap bulan. Dari perguruan ini ia beroleh gelar doctor honoris causa, 1984. Gelar serupa pernah diperolehnya dari Universitas Airlangga untuk ilmu ekonomi, 1972.
Ia menikah dengan Zaleha, 1943. Salah seorang anaknya, Ponco Nugro Susilo, kini pengusaha muda terkemuka. Rajin berolah raga, Ibnu hampir tiap sore main golf sekitar dua jam.
|