
Nama : IZZAC HINDOM
Lahir : Desa Adora, Kab. Fakfak, Ir-Ja, 23 September 1934
Agama : Protestan
Karir : - Camat di Teluk Etna, Kaimana (Fakfak, Irian Jaya)
- Anggota DPR/MPR RI (sejak 1971)
- Wakil Gubernur Irian Jaya (1980-1982)
- Gubernur Irian Jaya (1982-sekarang)
Alamat Rumah : Jalan Trikora Dok 25 (atas) Jayapura Telp.: 21007
Alamat Kantor : Kantor Gubernuran Irian Jaya Jalan Son Siu, Jayapura Telp.: 21945
|
|
IZZAC HINDOM
Kecaman Parlemen Eropa yang, antara lain, mempermasalahkan hak asasi dan berbagai kasus di Irian Jaya mewarnai pemberitaan surat kabar, pertengahan 1985. Apa komentar Izaac Hindom? "Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu," katanya, mengutip pepatah tua.
Gubernur yang berpotongan petinju kelas berat ini memang suka berbicara keras, tetapi banyak humor. Pengalamannya sebagai pamong dengan awal karier camat di Teluk Etna, Kaimana, mewarnai kepemimpinannya. Berwibawa, dengan sikap mengayomi, tetapi juga tegas dan pandai bicara. Keluarga petani ini pernah menjadi anggota DPR/MPR dari Fraksi Karya Pembangunan, kemudian Wakil Gubernur Irian Jaya, November 1980. Dua tahun kemudian, ia sudah menjadi orang pertama di Irian Jaya, menggantikan Mayjen (Purnawirawan) Busiri Suryowinoto, yang meninggal di Tokyo, Jepang, Agustus 1982.
Begitu ia menjadi gubernur, yang memusingkannya adalah bagaimana melakukan penyebaran 1,2 juta penduduk di daerah yang luasnya empat kali Pulau Jawa itu. "Saya mau tanam manusia di Ir-Ja," kata Hindom. "Orang Irian boleh omong besar soal pembangunan, tetapi suaranya tertelan oleh luasnya wilayah ini."Ia kemudian menatap masalah transmigrasi sebagai jalan keluar. "Melalui transmigrasi, potensi alamiah yang ada dapat digali dan dikembangkan. Sekaligus dapat menimbulkan alih keterampilan dari pendatang kepada penduduk setempat," kata Hindom. Ia, dengan semangatnya yang menggelora, malah berucap, "Yang antitransmigrasi itu kaum separatis, dan itu musuh pemerintah yang harus ditumpas."
Masalah transmigrasi ini pula yang menjadikan PNG -- yang berbatasan dengan Irian Jaya -- waswas. Pemerintah PNG menuduh, pengiriman orang Jawa ke Irian Jaya lambat laun dapat melenyapkan kebudayaan Melanesia di Irian Jaya. Kekhawatiran PNG itu kembali membuat Hindom berang. "Pikiran-pikiran demikian sudah tidak bisa diterima lagi dalam keadaan teknologi yang demikian modern. Orang tidak bisa lagi memelihara kultur suku bangsa atau suatu ras menjadi lestari," katanya. Hindom justru sama sekali tidak khawatir akan datangnya transmigran Jawa ke wilayahnya. Malah ia suka bergurau, menyebut "Irian Jawa" untuk singkatan Ir-Ja.
Hindom juga melihat perlunya Irian Jaya dipecah menjadi tiga provinsi. "Presiden Soeharto telah setuju," katanya, "tetapi akan dilaksanakan secara bertahap." Izaac Hindom adalah putra Irian ketiga yang menjadi gubernur, setelah E.J. Bonay dan F. Kasiepo.
|