
Nama : ISKANDAR SURYAATMADJA
Lahir : Jember, 4 Agustus 1938
Agama : Budha
Pendidikan : - SD Ming Chiang, Surabaya (1952)
- SLP Chung Hwa High School, Surabaya (1955)
- SLA Chung Hwa High School, Surabaya (1958)
- Universitas Hawaii, AS (1973) Coaching Clinic di Universitas Indiana, AS (1973)
- Olympic Solidarity Clinic, Indonesia (1980)
- Olympic Solidarity Coaching Clinic, Tokyo-Japan (1984)
Karir : - Penerjemah surat kabar di Surabaya (1959-1961)
- Instruktur Renang Korps Marinir TNI-AL (1963-1966)
- Instruktur Renang Akabri Laut (1963-1972)
- Pelatih Renang Perkumpulan Renang Hiu di Surabaya (1960 -- sekarang)
- Direktur Isna Physical Fitness Centre (1972 -- sekarang)
Kegiatan Lain : - Pengurus Daerah PRSI untuk Jawa Timur sebagai Komisi Teknik Renang (1969-1984)
- Pengurus Besar PRSI sebagai Komisi Teknik Renang (1974-1984)
Alamat Rumah : Prapen Indah VI D7, Rungkut, Surabaya, Jawa Timur Telp: 819270
Alamat Kantor : Jalan Tegalsari 4tA, Surabaya
|
|
ISKANDAR SURYAATMADJA
"Sejak kecil saya sudah gila renang," kata Iskandar Suryaatmadja, pelatih renang terkenal dari Surabaya. "Kegilaan" yang tetap menjangkit sampai usianya dewasa itu sempat membuat ayahnya, pegawai Jawatan Penerangan Jawa Timur, kesal. Soalnya, perkawinan kedua adiknya -- dan Iskandar tertua di antara mereka bertiga -- tidak sempat dihadirinya, saking sibuk di kolam renang. "Upacara perkawinan bukan hal luar biasa," jawab lelaki itu. Memenuhi desakan ayahnya, Iskandar lalu belajar auto mechanic pada Universitas Hawaii, AS, 1972. "Saya waktu itu sudah bertekad cerai dari dunia renang," tuturnya. Tetapi, di perpustakaan universitas ia malah asyik melahap sejumlah buku teknik berenang -- begitu ngelotok-nya sampai merasa rugi jika tidak diterapkan.
Keluar dari Universitas Hawaii, 1973, Iskandar lalu menemui dua pelatih renang AS terkenal, George Hains (yang melahirkan perenang Mark Spitz), dan Dr. James Counselmen, pengarang buku Science of Swimming. Hasilnya, kembali ke Indonesia, Iskandar berhasil mengorbitkan Nanik Juliati sebagai perenang berprestasi.
Pheng -- panggilan dari nama aslinya, Ang Thiek Pheng -- di masa kecil pernah bercita-cita menjadi anggota Angkatan Laut. Tetapi, ijazahnya yang berasal dari sekolah Cina, Chung Hwa High School (SMPwSMA digabung), tidak memungkinkan. Toh, lingkungan TNI-AL sempat dirasakannya juga pada 1963. Sembilan tahun ia menjadi pelatih renang Akademi Angkatan Laut (kini Akabri Laut) di Surabaya, dan tiga tahun melatih pasukan Marinir TNI-AL di Gunung Sahari, Jakarta.
Pengalaman melatih di AL membuat disiplin Iskandar makin menemukan bentuknya. Di klub asuhannya, Hiu Surabaya, ia dikenal "galak". Yang terlambat datang, tanpa pandang bulu, harus melaksanakan sanksi lompat katak, atau push up. Yang tidak senang, "Silakan keluar," ujar pengagum Mark Spitz (AS) dan Cornelia Ender (Jerman Timur) itu. Tetapi, di luar kolam latihan, ia tampil sebagai teman akrab anak-anak asuhannya.
Mengapa banyak perenang berbakat Indonesia cepat tenggelam? "Matang dikarbit," itulah ungkapan Iskandar untuk terlalu cepatnya seorang perenang diorbitkan. "Orang selalu mengharapkan munculnya Wonder boy dan Wonder girl," tambahnya. Menurut dia, perenang harusnya matang dulu dalam latihan dasar.
Pada 1980, Iskandar menikah di catatan sipil dengan Nanik Juliati Soewadji. Orangtua Nonik -- panggilan Nanik -- kebetulan teman baik Iskandar, sehingga anak itu sudah dikenalnya sejak berusia tiga tahun. Pada usia 11 tahun Nonik dititipkan padanya untuk dimatangkan sebagai perenang -- dan berhasil. Ibu dua anak ini kini mendampingi suaminya sebagai pelatih, di samping turut mengelola proyek bersama mereka: pusat kesegaran fisik.
|