
Nama : ISKANDAR ALISJAHBANA
Lahir : Jakarta, 20 Oktober 1931
Agama : Islam
Pendidikan : - Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Bandung (sekarang ITB), Sarjana Muda, 1954
- Sekolah Tinggi Teknik Muenchen, Jerman Barat (Dipl. Ing., 1956)
- Sekolah Tinggi Teknik Darmstadt, Jerman Barat (Doktor, 1960)
Karir : - Karyawan Laboratorium Pusat Siemens & Halske, Muenchen, Jerman Barat (1956-1960)
- Dosen, kemudian Guru Besar Institut Teknologi Bandung (1960- sekarang)
- Dekan Fakultas Teknologi Industri ITB (1972-1974)
- Wakil Ketua Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (1974- 1976)
- Rektor ITB (1976-1978)
Kegiatan Lain : - Direktur PT Paparti
Karya : - A Satellite Communication System for Domestic and Regional Development in South East Asia, Unesco, Paris, 1964
- Teknologi dan Perkembangan, Idayu, 1980
Alamat Rumah : Jalan Sulanjana 11tA, Bandung
Alamat Kantor : Kampus ITB, Jalan Ganesha 10, Bandung
|
|
ISKANDAR ALISJAHBANA
Ketika menjabat Rektor ITB, akrab dengan mahasiswa karena sikapnya yang terbuka, bebas, dan egalitarian. Di kampus itu pula ia pernah mengecap pendidikan sampai sarjana muda. Lalu melanjutkan ke Technische Hochschule Muenchen, Jerman Barat, sampai ia memperoleh gelar diploma ingenieur, 1956. Empat tahun kemudian memperoleh doktor ingenieur dari Technische Hochschule Darmmstadt, Jerman Barat.
Anak kedua dari ayah Sutan Takdir Alisjahbana dan ibu Raden Ajeng Rohani Daha telah kehilangan ibu ketika berusia 4 tahun. Ayahnya kemudian menikah lagi, dan total ia punya sembilan saudara. Seorang adiknya dari satu ibu, Sofjan Alisjahbana, memimpin Femina Group.
Ketika menjadi Rektor ITB, sering hadir bahkan ikut bicara dalam diskusi-diskusi mahasiswa, meski sering pula tidak sejalan dengan mahasiswa. Ia berada dalam posisi sulit ketika terjadi aksi mahasiswa pada tahun 1978. Ia dibebastugaskan dari jabatan rektor, sebelum masa waktunya berakhir. Dinihari sebelum timbang terima, 16 Agustus 1982, rumahnya diberondong peluru oleh orang tidak dikenal.Sebagai guru besar telekomunikasi elektronik ITB, ia juga duduk sebagai Dewan Telekomunikasi RI. Seri tulisannya di harian Kompas dalam bulan Maret 1985 tentang air, listrik, dan telekomunikasi dinilai, "sebagai pijakan untuk pembicaraan yang lebih mendasar mengenai alih teknologi," tulis Mochtar Lubis di harian yang sama.
Tentang Direct Broadcasting Satellite (DBS), ia tidak percaya bahwa siaran-siarannya akan membahayakan. "Selama ini kita ketakutan terhadap bahayanya," katanya. Baginya, justru video- tape, yang sudah lama masuk yang susah dikontrol, dan lebih besar dampak negatifnya. Ia lalu memberi contoh di Iran. Pengaruh Khomeini di zaman Shah bukan karena DBS, tetapi justru melalui video.
Ia kecewa terhadap penggunaan teknologi komunikasi satelit Palapa-A dan Palapa-B. "Kita harus menjadi penonton," katanya. Dalam hal ini, ia melihat contoh pada India. Ahli-ahli India terlibat langsung ketika mereka menggunakan teknologi satelit, "sehingga mereka mengerti teknologi baru itu," katanya. Sedangkan ahli Indonesia hanya "diajar menggunakan satelit komunikasi itu."
Penggemar fotografi ini juga sering tidak sependapat bila terjadi larangan terhadap masuknya teknologi hanya atas pertimbangan padat karya. Baginya, larangan itu membuat manusia Indonesia tidak sempat mengecap pendidikan lebih tinggi. "Larangan itu sama sekali tidak manusiawi," katanya.
Lelaki berkulit kuning langsat dan hidung mancung ini memperistri seorang dokter spesialis anak-anak.
|