
Nama : H. SOEWANDI
Lahir : Lumajang, Jawa Timur, 24 Oktober 1926
Agama : Islam
Pendidikan : - MULO
Karir : - Anggota BKR/TKR di Surabaya (1945)
- Pelatih Depot Pendidikan di Jember
- Komandan Rindam di Jember
- Bertugas di Batalyon 32 Brigade II di Malang
- Asisten Operasi Korem 083 di Malang (1965)
- Dandim di Malang (1966-1969)
- Dandim di Lumajang (1969-1973)
- Bupati Lumajang (1973-1983)
- Gubernur Kal-Tim (1983 -- sekarang)
- Anggota MPR (1985 -- sekarang);
Alamat Kantor : Kantor Gubernuran Kalimatan Timur, Samarinda
|
|
H. SOEWANDI
"Pak Wandi", demikian panggilan akrabnya saat menjadi Bupati Lumajang, disandangnya kembali tidak lama setelah menjabat Gubernur Kalimantan Timur. Selalu berusaha dekat dengan rakyat, Soewandi Roestam sering masuk kampung keluar kampung. Kini ia dijuluki "gubernur kampungan", yang membuatnya malah bangga.
Kediaman Gubernur Kalimantan Timur dulu disebut "Pendopo". "Yang didiami gubernur itu rumah milik rakyat," kata Soewandi, pada kesempatan bersalat Idulfitri di Masjid Raya Samarinda, 1983. "Karena itu, jangan ragu-ragu menemui saya, asal tidak lewat tengah malam," tambah gubernur yang suka bekerja sampai pukul 2 dinihari itu. Konon, ia juga tidak memakai sekretaris untuk "menyaring" para tamu. Kediaman Gubernur pun lalu berganti nama menjadi Lamin Etam, dua kata bahasa Dayak dan Kutai, yang berarti "rumah kita".
Sosok merakyat bekas anggota Peta yang nyaris dihukum mati oleh militer Jepang itu bukanlah baru. Ketika 13 tahun bertugas di Lumajang, Jawa Timur -- tiga tahun selaku komandan Kodim, dan 10 tahun sebagai bupati -- ia dinilai berhasil. Ia berhasil memukimkan kembali 500 kepala keluarga korban banjir akibat meletusnya Gunung Semeru, 1981. Dalam masa tugasnya pula, Kabupaten Lumajang harum sebagai gudang pangan di Jawa Timur. Untuk sukses itu, Lumajang menerima Panji Pengadaan Pangan dari Menteri Dalam Negeri RI, 1982.Di awal kemerdekaan, sebagai anggota BKR, Soewandi ikut dalam pertempuran 10 November (Hari Pahlawan) di Surabaya. Pria berpendidikan MULO itu kemudian bergabung dengan TNI, dan pernah mengawal Istana Presiden di Yogyakarta. Masa dinas militer Pak Wandi berikutnya hampir seluruhnya di Jawa Timur, sampai memasuki dua kali masa bakti sebagai Bupati Lumajang.
"Kalimantan Timur punya permasalahan kompleks," kata Soewandi. Yang pokok adalah ketidakmerataan pembangunan daerah yang terbagi dalam kawasan pantai -- berpenduduk 6 orang per km -- dan pedalaman dengan kepadatan satu orang per km."
Soewandi yang jangkung (174 cm), berkulit putih, dan berhidung mancung, pernah dijuluki "Wandi Londo" (Soewandi Belanda). "Itu predikat intim buat saya," kata pria yang ceplas-ceplos itu. Ayah sembilan anak -- dari perkawinannya dengan Soelastyaningsih -- kini suka bermain bulu tangkis, tenis, mengayuh sepeda, dan naik sepeda motor trail. Istrinya, yang sudah naik haji seperti juga Soewandi sendiri, juga cukup sibuk, misalnya di Dharma Wanita. "Saya pulang, istri pergi," katanya berseloroh. "Untung, sudah sama-sama tua. Kalau masih muda, bisa dibayangkan."
|