
Nama : HARRY DARSONO
Lahir : Mojokerto, Jawa Timur, 15 Maret 1952
Agama : Katolik
Pendidikan : - SD (1964)
- SMP (1967)
- dan SMA (1970), Surabaya
- Paris Academy of Fashion (1971)
- London College of Fashion (1972)
- The London Film & Television Academy (1972)
Karir : - Instruktur Paris Academy of Fashion (1972-1974)
- Pengajar Etika & Estetika Busana Muslim Fatayat NU (1976- 1978)
- Penata motif dan busana sutera Mido Pte. Ltd. dan China Silk House, Singapura (1978)
- Perancang motif dan busana jadi PT Batik Keris (1979- sekarang)
- Konsultan mode dan penasihat rancangan (1982-sekarang)
Kegiatan Lain : - Ketua Subkonsorsium Ditjen PLSPO Depdikbud (1984-sekarang)
Alamat Rumah : Jalan Kesehatan 30, Jakarta Pusat Telp: 367331
|
|
HARRY DARSONO
Pulang dari studi busana tinggi, film, dan televisi di London, 1975, ia menghadap ayahnya, pemilik perusahaan rokok Surabaya yang memproduksi rokok merk Dji Sam Soe, Sampoerna, dan Wismilak. Saat itu ia langsung menolak tawaran bekerja di perusahaan ayahnya -- berbeda dengan kedelapan saudaranya. Akhirnya, Haji Darsono, sang ayah, berkata, "Baiklah, Har. Bapak cuma bisa memberi kamu sebuah rumah kecil dan satu mobil. Terserah bagaimana kamu mengelolanya, sebab saya tidak kenal bidang kamu."
Dari kecilnya, pemilik Harry Darsono Couture ini suka menggambar. Memakai lipstik kakaknya, ia suka mencoret-coret kertas atau dinding rumah. Setamat SMP, ia hampir berangkat ke AS untuk belajar musik. Walaupun ia sudah lulus tes, ibunya, yang ragu-ragu, membawanya dahulu ke psikolog. Hasilnya: ia dinilai paling tepat menekuni gambar-menggambar. Sedangkan musik dan tari, boleh sebagai hobi saja.Di Jalan Kesehatan, Jakarta Pusat, rumah dan sekaligus kantornya, Harry mempekerjakan 49 karyawan. Sekitar 26 di antaranya artis yang umumnya lulusan STSRI, IKJ, dan ITB. Ada sekitar 22 motif batik, 20 motif tenun ikat, 18w20 desain kain, dan 25 desain pakaian jadi yang dihasilkannya per bulan. Pensil dan kertas gambar selalu menyertainya. "Juga di mobil dan WC," katanya.
Di samping sibuk di butiknya itu, pada hari-hari tertentu Harry dikontrak oleh perusahaan, seperti Batik Keris, Texmaco, dan Selvira. PT Sarinah Jaya, di samping mengontraknya sebagai perancang pakaian jadi, juga sebagai penasihat dan konsultan. Hampir 85 persen langganannya wanita di atas usia 40 tahun. Perancang busana ini suka main piano, menari Bali, dan balet.
Baginya, fashion atau mode berangkat dari kesan yang ditangkap dari penampilan. Jadinya, perancang busana adalah penjual penampilan. Perancang bukan pelukis murni, katanya. "Saya tidak peduli tanda tangan saya dipasang di kloset (asal dibayar)," ujar Harry, yang menuding bertimbunnya produk dalam negeri karena desainnya yang sembrono.
Di Bali, Harry memiliki pesanggrahan. Itulah tempat "pelarian"-nya jika sedang sumpek dengan kebisingan Kota Jakarta. Sejak dibaptis sebagai penganut Katolik, 1980, bujangan ini menjadi lebih panjang namanya: Mercelino Dominicus Savio Harry Daroeharto Darsono.
|