
Nama : HARIADI PAMINTO SOEPANGKAT
Lahir : Jakarta, 12 Maret 1933
Agama : Islam
Pendidikan : - SD, Jakarta (1946)
- MULO, Jakarta (1950)
- SMA, Jakarta (1952)
- ITB (1959)
- Universitas Purdue, AS (M.Sc. 1968, Doktor 1972)
Karir : - Asisten Tetap FIPIA UI (1957-1959)
- Anggota Staf Pengajar ITB (1959-sekarang)
- Penanggung Jawab Laboratorium Elektronika Inti, Bagian Fisika ITB (1961-1966)
- Asisten Direktur Lembaga Fisika Nasional (1962-1965) Konservator Bagian Fisika ITB (1964-1966)
- Pejabat Direktur Lembaga Fisika Nasional, LIPI (1965-1966)
- Peneliti pada Materials Research Laboratory, Universitas Purdue, AS (1968-1972)
- Sekretaris Badan Pembina Sarana Akademik ITB (1973-1974)
- Sekretaris Bidang Administrasi dan Keuangan ITB (1974-1977)
- Dekan Fakultas Matematika dan IPA ITB (1977-1981)
- Rektor ITB (1980-sekarang)
Kegiatan Lain : - Dewan Editor Seksi Instrumentasi dan Material, Majalah Atom Indonesia Batan (1975-sekarang)
- Anggota Dewan Pertimbangan Golkar, Jawa Barat (1984-sekarang)
Karya : - Antara lain: GwFactors of Boron in Germanium, bersama P. Fisher, Physics Letters, Vol. 39A, 379, 1972
- Beberapa Sistem Detektor Radiasi Infra Merah, Seminar Nasional Penelitian Dirgantara, LAPAN, 1979
Alamat Rumah : Jalan Sangkuriang 21, Bandung Telp.: 81421
Alamat Kantor : Jalan Ganesha 10, Bandung
|
|
HARIADI PAMINTO SOEPANGKAT
Kecuali guru bahasa Indonesia, hampir semua guru SMA Negeri Gang Batu, Jakarta, tahun 1950-an, adalah orang asing. "Saya belajar fisika karena dipengaruhi guru saya, seorang Belanda bernama Ir. Goudentak. Ia guru yang baik," ujar Hariadi Paminto Soepangkat.
Masuk ITB Bandung, anak kelahiran Jakarta itu mula-mula memilih Jurusan Elektro. Baru setahun, ia pindah ke Fisika Teknik. Di sini bertahan dua tahun. Pindah lagi, ke Jurusan FIPIA, dengan mata pelajaran utama fisika dan matematika. Hariadi lulus (1959) dengan program studi fisika nuklir.
Soepangkat, sang ayah, bekas pegawai pamong praja di Jakarta, adalah sarjana hukum lulusan Rechtshogeschool (kini FH UI). Paman-pamannya umumnya sarjana hukum, meski ada juga yang menjadi dokter. "Saya barangkali termasuk yang menyimpang," ujar Hariadi P. Soepangkat, Rektor ITB yang mengambil Ph.D. pada Universitas Purdue, AS, 1972, untuk bidang fisika semikonduktor eksperimental. Disertasinya berjudul: Zeeman Effect of Group III Impurities in Germanium.Ia mulai memimpin ITB ketika para mahasiswanya masih "galak". Menjadi rektor definitif pada November 1980, ia sempat disambut dengan spanduk "Turut Berdukacita Atas Runtuhnya Pilar Pendidikan Kampus". Kegiatan politik praktis mereda pada empat tahun pertama masa baktinya, hingga ia, pada 1984, kembali menjadi rektor untuk periode berikutnya.
Menurut Hariadi, mahasiswa ITB sekarang banyak mengalihkan diri ke kegiatan yang langsung berhubungan dengan masyarakat: koperasi buku dan kaki lima, misalnya. Sambil mengajarkan soal pemasaran kepada penduduk pinggiran, banyak pula yang menulis di harian Pikiran Rakyat. "Berpolitik, sih, boleh, tapi ya . di Golkar-lah, di HMI-lah," ucap Rektor ITB.
Pada pelantikan 501 lulusan Strata-1 (S1), Maret 1985, Hariadi mengemukakan bahwa mahasiswa ITB rata-rata merampungkan studinya dalam 6,9 tahun. Tahun sebelumnya, 7,2 tahun. Artinya, banyak yang lulus dalam usia lebih muda -- rata-rata dalam usia 26 tahun.
Kegemarannya memotret, sejak memangku jabatan Dekan FMIPA ITB (1977) tidak dilakukannya lagi. "Tak ada waktu," ujar ayah putri tunggal hasil pernikahannya dengan Siti Hadidjah Poeraatmadja itu. Padahal, kamar gelap adalah, "Tempat orang bisa melupakan segalanya."
Menganggap gelar hampir tidak ada gunanya, ia setuju gelar dihapus. Itu kalau kita mau mendorong agar masyarakat berorientasi pada prestasi, dan bukan status, kata Hariadi P. Soepangkat, yang rajin salat. "Waktu menghadap Tuhan yang dibawa 'kan amal. Apa nanti bakal ditanya lulusan mana, lulusan ITB?"
|