
Nama : HARYATI SOEBADIO
Lahir : Jakarta, 24 Juni 1928
Agama : Islam
Pendidikan : - ELS, Madiun dan Jakarta (1940)
- SMP, Jakarta
- SMA Menteng dan Salemba, Jakarta (1946)
- Gemeentelijke Universiteit, Amsterdam, Negeri Belanda (1956)
- Doktor dari Gemeentelijke Universiteit, Amsterdam (1971)
Karir : - Dosen Fakultas Sastra UI, Jakarta (1975-1978)
- Guru Besar dalam Sanskerta dan Jawa Kuno pada Fakultas Sastra UI (1975-sekarang)
- Dekan FS UI, Jakarta (1975-1978)
- Dirjen Kebudayaan Departemen P & K (1978-sekarang)
Karya : - Inanasiddhanta, Jambatan, 1985
Alamat Rumah : Jalan Pulo Raya IV/34, Jakarta Selatan
Alamat Kantor : Jalan Cilacap 4, Jakarta Pusat
|
|
HARYATI SOEBADIO
Sekalipun kebudayaan merupakan daya tarik pariwisata, "Jangan korbankan nilai budaya untuk menghasilkan devisa sebanyak-banyaknya," kata Haryati Soebadio, Direktur Jenderal Kebudayaan, Departemen P & K.
Ramah dan lincah, doktor lulusan Fakultas Sastra Universitas Gemeentelijk Amsterdam ini yakin, kepribadian bangsa tidak goyah karena ancaman budaya asing. Asal, "Kita dapat mengembangkan kekayaan budaya kita sendiri sambil menyaring hal-hal yang baik dari kebudayaan luar," katanya.
Ia berpendapat, nenek moyang kita menerima pengaruh dari India, Cina, Eropa, dan sebagainya, tanpa merusakkan kebudayaan sendiri. Ia menunjuk candi Borobudur yang dipengaruhi India. Toh, "Kecuali di Indonesia, tidak ada candi semacam itu di dunia," katanya bangga.
Anak kedua dari tiga bersaudara ini semula ingin menjadi dokter. Karena sangat tertarik membaca buku-buku berbahasa Jawa kuno milik eyangnya, ia putar haluan. Tamat SMA ia berangkat ke Negeri Belanda, diterima menjadi mahasiswa jurusan Sanskerta.
Walau mendapat pendidikan modern, ia sangat merindukan hal- hal yang tradisional. Misalnya, permainan tradisional anak-anak yang semakin punah dan langka. Padahal, "Permainan itu masih punya arti penting dalam proses pembinaan bangsa," katanya.
Ia sangat menyayangkan sebagian masyarakat masih kurang menyadari arti perlindungan terhadap benda-benda kuno. "Bukan hanya gambaran masa lampau, tetapi "barang kuno memberikan kesaksian utama atas kehidupan nenek moyang kita lahir dan batin," katanya. "Untuk kehidupan sekarang dapat dijadikan inspirasi."
Ketika mahasiswa, Nunuk -- demikian ia biasa dipanggil -- sering menulis dalam majalah yang diterbitkan suatu perkumpulan mahasiswa di Negeri Belanda. Belakangan, ia juga menulis cerpen dan novel di majalah Femina, Selera, dan Gadis. Novelnya, Selembut Bunga, pernah memenangkan sayembara menulis novel.
Menikah dengan Soebadio -- guru ilmu pastinya semasa di SLP/SLA -- ia dikaruniai tiga putra. Suaminya meninggal pada 1961, saat anak bungsu berusia belum dua tahun. Kini anak tertua telah memberikan cucu baginya.
Ia pernah dianugerahi bintang jasa Knight Commander's Cross oleh pemerintah Republik Federal Jerman. Dirjen yang juga guru besar UI ini gemar akan bunga mawar dan anggrek kadang masih menyempatkan diri bersenam dan berenang.
Diangkat menjadi "Ibu Masyarakat Banten" ia tegang dan gelisah ketika menyaksikan pertunjukan dabus. Menyaksikan atraksi "pemotongan lidah", ia memalingkan muka dan menutupi matanya. "Iiih, ngeri," katanya setengah menjerit.
|