
Nama : HASAN BASRI
Lahir : Muarateweh, Kalimantan Tengah, 20 Agustus 1920
Agama : Islam
Pendidikan : - SD, Muarateweh (1933)
- Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah, Banjarmasin (1938)
- Sekolah Guru Muhammadiyah, Yogyakarta (1941)
Karir : - Guru Sekolah Muhammadiyah, Marabahan dan Banjarmasin (1941-1945)
- Ketua I Pengurus Besar Serikat Muslimin Indonesia (1945-1949)
- Ketua Umum Bagian Pemuda Barisan Serikat Muslimin Indonesia (1945-1949)
- Anggota DPR-RI (1950-1960)
- Ketua Ikatan Masjid Indonesia (1953-sekarang)
- Wakil Ketua Yayasan Perjalanan Haji Indonesia (1953-sekarang)
- Ketua Umum Yayasan Pesantren Al Azhar, merangkap Imam Besar Masjid Agung Al Azhar dan Wakil Imam Besar Masjid Agung Sunda Kelapa (1975-sekarang) ; Ketua (1975-1985), kemudian Ketua Umum (1985-sekarang)
- Majelis Ulama Indonesia (MUI)
- Pembina Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (1980-sekarang)
Alamat Rumah : Jalan Buncit I/50, Jakarta Selatan Telp: 796964
Alamat Kantor : Masjid Istiqlal, Jalan Wijayakusuma, Jakarta Pusat Telp: 355471
|
|
HASAN BASRI
Suatu ketika, untuk selama lebih dari setengah tahun terus- menerus, Hasan Basri sudah dipesan untuk berkhotbah di berbagai masjid. Ia dikenal sebagai khatib yang mahir, dan berkhotbah tidak pernah menggunakan teks. Memang sudah terlatih berbicara sejak masa kecilnya, ketika berusia enam tahun, setiap sore Hasan harus berpidato di depan kakek dan neneknya untuk memberikan pertanggungjawaban tentang apa yang dikerjakannya sehari penuh. "Saya juga menceritakan siapa teman-teman saya. Kalau ada teman saya yang dianggap Kakek tidak baik, saya dilarang bergaul dengan mereka," cerita Kiai Haji Hasan Basri.
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini memegang jabatannya sejak 1985. Sebelumnya, ia Ketua Majelis Hikmah di Muhammadiyah, dan Ketua I MUI. Kiai yang sudah tujuh kali naik haji ini melihat, MUI sangat besar berperanan di bidang pembangunan. Menurut dia, melalui MUI program pemerintah bisa disampaikan kepada masyarakat dengan bahasa ulama. "Begitu pula sebaliknya, suara masyarakat bisa disampaikan kepada pemerintah," katanya.Tentang pemakaian kerudung (jilbab), Hasan Basri menyatakan bahwa hal itu tidak ada sangkut pautnya dengan politik. "Karenanya, tak perlu diangkat sebagai masalah nasional," tuturnya di depan Komisi IX DPR dalam suatu dengar pendapat. Dikatakannya, MUI tidak mengeluarkan fatwa tentang jilbab, sebab hukumnya sudah jelas di dalam Quran.
Memandang dunia masa kini, "Saya kira kita berada di suatu zaman yang penuh tantangan dari segala aspek kehidupan manusia. Agama juga demikian. Menghadapi masa depan, kita harus menyiapkan generasi yang jauh lebih baik dari generasi yang ada sekarang," katanya. Dan mengenai masuknya pengaruh asing yang mengkhawatirkan, ia menyatakan, "Hanya bisa dicegah dengan pendidikan."
Putra keempat dari lima bersaudara ini ditinggalkan ayahnya, Mohamad Darum, ketika masih berusia tiga tahun. Di masa perjuangan, sekitar 1946, ia pernah ditangkap dan dibawa ke kantor polisi Belanda. Ia disangka sebagai perwira Divisi IV ALRI. "Di kantor polisi, orang-orang tertawa karena petugas itu salah tangkap," katanya sambil tertawa kecil.
Di Banjarmasin, pada masa perjuangan itu pula, ia membentuk Serikat Muslim Indonesia (Sermi), lalu Barisan Muslim Indonesia (Basmi). Kedua organisasi itu bertujuan menentang penjajahan. Dan bersama istrinya, Ny. Nurhani, yang telah melahirkan empat anak, mereka berdua pernah membuka sekolah dasar Muhammadiyah di Marabahan, Kalimantan Selatan. Ia terjun ke dunia politik setelah pecah Perang.
|