
Nama : HARDJANTHO SUMODISASTRO
Lahir : Surakarta, Jawa Tengah, 15 September 1927
Agama : Islam
Pendidikan : - HIS, Sragen (1940)
- SMP, Solo (1944)
- SMA, Yogyakarta (1953)
- Fakultas Ketatanegaraan dan Ketataniagaan Universitas 17 Agustus 1945, Jakarta (1968)
Karir : - Anggota ABRI, Jawa Timur (1945-1950)
- Ketua II Markas Besar Legiun Veteran RI (1959-1970)
- Anggota Pengurus DPP PNI (1959-1966), kemudian Bendahara II DPP PNI (1966-1970)
- Ketua III DPP PNI (1970-1973)
- kemudian Ketua DPP PDI (1981-1986)
- Anggota DPR/MPR-RI (1959-sekarang), Wakil Ketua DPR-RI (1982- sekarang)
Kegiatan Lain : - Presiden Komisaris PT Standard Toyo Polymer (1974-sekarang)
- Ketua Umum Presidium Asosiasi Industri PVC Resin (1967- sekarang)
Alamat Rumah : Jalan Intan No. 8, Cilandak, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Alamat Kantor : Gedung DPR/MPR-RI, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan
|
|
HARDJANTHO SUMODISASTRO
Menurut Hardjantho, disahkannya lima RUU bidang politik menjadi Undang-Undang mengharuskan pemerintah dan kekuatan sospol saling mendewasakan diri. Apalagi, setelah Pancasila disepakati menjadi satu-satunya asas. "Kekuatan sospol jangan mencari kepingan kelemahan yang lain, dengan maksud mengotori kemurnian asas yang telah disepakati," katanya.
Ia mengimbau kekuatan sospol agar lebih pandai menjelaskan programnya kepada anggotanya, dan membiasakan melakukan rangkaian kegiatan. Sebab, "Selama ini konsentrasi kekuatan sospol berlangsung hanya pada saat menjelang pencalonan dan pemilu saja," ujarnya. Ungkapan penderitaan dan kesulitan massa dalam periode tertentu kurang mendapat perhatian. Ditambahkannya, "Perjuangan sekarang ini tidak terlepas dari proses sejarah, yang kebenarannya dikaji pula oleh sejarah."
Wakil Ketua MPR/DPR-RI yang juga Ketua DPP PDI ini berharap Pemilu 1987 berlangsung lebih dewasa, sehingga rakyat tidak apatis dan merasa ketakutan seperti dalam Pemilu 1982. Tanda gambar kontestan harus sudah mencerminkan Pancasila sebagai satu-satunya asas. Sekalipun, diakuinya, "Yang lebih penting adalah tingkah laku dalam pengamalan Pancasila, bukan tanda gambar."
Pada masa Revolusi Kemerdekaan ia bergabung dengan kesatuan ABRI di Jawa Timur. Sampai 1950, ia berpangkat kapten infanteri. Ia anak keenam dari tujuh bersaudara Sumodisastro, mantri guru di zaman Belanda.
Pada Kongres PNI di Bandung, 1966, Hardjantho tampil sebagai penengah dalam sengketa antara Ali Sastroamidjojo dan Osa Maliki. Setelah PNI berfusi ke dalam PDI, Hardjantho selalu mendapat kedudukan penting dalam partai. Kemelut yang acap melanda partai tersebut malah memperkukuh posisinya.
Bukan hanya sebagai politisi, ia juga seorang pengusaha. Berbagai jabatan dalam organisasi perusahaan swasta dan veteran pernah dipangkunya. Sarjana lulusan Fakultas Administrasi Niaga dan Negara Universitas 17 Agustus 1945, Jakarta, ini kini Presiden Komisaris PT Standard Toyo Polymer.
Koordinator Bidang Ekonomi dan Keuangan DPR-RI ini sependapat dengan rencana Presiden menghapuskan program Bimbingan Masal (Bimas). Tetapi, "Petugas yang menyeleweng dan tunggakan kredit Bimas jangan dibebaskan," katanya. Menikah dengan Arsi Astuti, ia dikarunia tujuh anak. Tenis dan golf merupakan kegemarannya.
|