
Nama : HARLAN BEKTI
Lahir : Bandung, Jawa Barat, 14 Juni 1918
Agama : Islam
Pendidikan : - HIS, Bandung (1932)
- MULO, Bandung (1936)
- AMS, Yogyakarta (1939)
- THS, sekarang ITB, Bandung
Karir : - Dirut PT Harlan Bekti Corporation
- Dirut PT Bekti Industrial Development Corporation
- Dirut PT Harlan Bekti Enterprises
- Dirut PT Harlan Bekti and Associates
- Dirut PT Anta Harlan Corporation
- Dirut PT Elegant Textile Industry
- Dirut PT Spectrum Research
- Dirut PT Selama Jaya
- Dirut PT Beklani
- Dirut PT Indusdasa
- Dirut PT Bikompi
- Dirut PT Bekti World Travel Service Dirut PT Cakalang Pitu
Kegiatan Lain : - Ketua Yayasan Pendidikan Triguna
- Anggota Dewan Penasihat Yayasan Idayu
Alamat Rumah : Jalan Taman Lebak Bulus 5, Blok X Kapling 6-7, Lebak Bulus, Jakarta Selatan Telp: 760251
Alamat Kantor : Yayasan Triguna Jalan Hang Jebat II/50, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Gedung Triguna Lantai II Telp: 730557, 733803, 732325
|
|
HARLAN BEKTI
Pada akhir masa Orde Lama, Harlan Bekti terbilang pengusaha terbesar di Indonesia. PT Tehnik Umum yang dipimpinnya, bersama Edi Kowara, menjadi pelaksana proyek kaliber Hotel Indonesia dan Air Mancur Monas di Jakarta, dan Hotel Ambarrukmo di Yogyakarta. Kemudian, masuknya berbagai perusahaan multinasional di awal Orde Baru, menjadikan perusahaannya terlihat kecil.
Tetapi orang yang sejak muda sudah senang jual-beli ini tidak cuma diam. Ia mendekati perusahaan-perusahaan asing itu, dan melakukan patungan. Kini Harlan menjadi direktur utama sekitar 13 perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan, impor- ekspor, industri, konsultasi, tekstil, riset pemasaran, perjalanan, dan penangkapan ikan. Berusia 67 tahun (1985), ayah seorang anak (perempuan) itu masih belum puas. "Kalau ada waktu dan kesempatan, saya akan membuka perusahaan di Jepang. Usaha penangkapan ikan tuna," katanya. Ia kini sedang mempersiapkan menantunya sebagai pengganti.
Di masa kecilnya, orang Bandung ini ingin menjadi dokter. Sang ayah, bekas kepala stasiun kereta api di Yogyakarta, tidak setuju. "Kalau jadi dokter, kerjamu hanya mengurusi orang sakit." Harlan lalu ingin jadi pengacara. Datang pula keberatan bapaknya: "Nanti yang lurus kamu bengkokkan, yang bengkok kamu luruskan." Pilihan yang disepakati, ternyata, si sulung lima bersaudara ini harus menjadi insinyur, kelak.Lalu ia masuk THS (sekarang ITB), dan menghadapi kesulitan biaya. Waktu inilah muncul bakat bisnisnya. Setiap ada tugas menggambar, ia membuat banyak rangkapan untuk dijual kepada teman-temannya. Atau, membuka les untuk murid MULO (SMP). Jepang masuk, THS ditutup. Harlan mulai benar-benar berdagang. Ia jual-beli buku pelajaran bahasa Jepang, sampai ke luar Kota Bandung -- malah sampai ke Surabaya. Hasil penjualan buku ia belikan rokok Mascot untuk dijual di Bandung.
Di zaman Revolusi, Harlan Bekti tetap berdagang. "Saya takut membunuh," ujar bekas penyalur Divisi Siliwangi itu. Ia menyediakan ransum untuk tentara, malah pernah membarter madat dengan pakaian seragam.
Ia pun pernah berdagang kayu bakar di Mojokerto. Begitu kayu bakarnya tidak sukses, ia pindah ke Jakarta, memulai usaha konstruksi.
Harlan tidur usai siaran Dunia Dalam Berita TVRI. Bangun pada 03.30, ia langsung menyetel siaran berita luar negeri: All India Radio, Radio Hilversum, VOA, ABC, di samping RRI. Tidak lupa salat subuh, dan satu jam di pagi hari ia gunakan berolah raga: renang atau tenis.
|