
Nama : HAMID ALGADRI
Lahir : Pasuruan, Jawa Timur, 10 Juli 1912
Agama : Islam
Pendidikan : - SD di Pasuruan Jawa Timur (1928)
- SMP di Surabaya (1932)
- SMA di Yogyakarta (1936)
- Rechtshogeschool di Jakarta (1951)
Karir : - Anggota KNI Pasuruan (1945)
- Anggota KNI Pusat (1946)
- Pegawai Tinggi di Kementerian Luar Negeri (1946)
- Anggota Badan Pekerja KNI Pusat/Pegawai Tinggi di Sekretariat Perdana Menteri (1947)
- Sekretaris Kementerian Penerangan/Penasihat Delegasi RI dalam perundingan Linggarjati & Renville
- Penasihat Delegasi RI di KMB (1949)
- Anggota DPR/Anggota Konstituante/Ketua & Wakil Ketua Seksi Luar Negeri DPR (1950)
- Sekjen Panitia Pembantu Perjuangan Kemerdekaan Tunisia & Aljazair
- Sekretaris Yayasan Dana Bantuan (YDB)/Ketua Yayasan Beasiswa Tunas Negara/Wakil Ketua/Bendahara Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (sekarang)
Kegiatan Lain : - Sekretaris Yayasan Pemberantasan Penyakit Paru- paru (YP3I)
- Penasihat Yayasan Bunga Kamboja
Alamat Rumah : Jalan Sisingamangaraja 23, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 711966
Alamat Kantor : Jalan Brawijaya Raya 15, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
|
|
HAMID ALGADRI
Jakarta, menjelang Clash I. Sebagai Sekretaris Kementerian Penerangan, "Tiap minggu saya melakukan perang radio dengan Dinas Penerangan Belanda (RVD)," tutur Hamid Algadri. Paruh kedua tahun 1940-an itu, zaman Rapublik, RVD muncul di Jakarta dan dipimpin Dr. Ozinga, yang sangat membenci Republik.
Perang radio tersebut berlangsung sangat sengit. "Sehingga, Sjahrir, yang waktu itu berada di Linggajati, menelepon saya untuk mengekang diri sedikit," kata Hamid. Lelaki yang sering dipanggil dengan nama Amik ini lantas menjadi sasaran penangkapan. "Saya ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara Jaga Monyet."
Penahanan itu memang tidak berlangsung lama. Tetapi, hari kebebasan sesudahnya bagi Amik tidak panjang. Dalam daftar 30 keluarga orang Rapublik yang diusir meninggalkan Jakarta menuju Yogya, Amik, menurut pengakuannya, menempati urutan pertama, dengan kualifikasi er uit -- harus minggat.Semangat perlawanannya terhadap kolonialis Belanda sudah tumbuh sejak anak kedua dari tiga bersaudara ini masih kecil. Atas usaha kakeknya, Algadri, pegawai honorer pemerintahan Belanda yang banyak mendapat tanda jasa, ia memang berhasil memasuki sekolah elite, ELS.
Ayahnya sendiri, Sayid Mohamad Algadri, pengusaha dan Lieutenant Arab di Pasuruan, sangat mampu membiayai pendidikannya. Namun, di sekolah, Amik sering mendebat gurunya. "Saya tidak takut dikeluarkan dari sekolah," tuturnya.
Kenyataannya, sekolahnya lancar, sampai kemudian mendapatkan gelar meester in de rechten dari Rechskundige Hogeschool Jakarta. Meskipun selama pergolakan kemerdekaan ia seperti tak henti-hentinya aktif dalam banyak gerakan. Misalnya, sebagai anggota Jong Islamieten Bond, dan anggota pengurus besar Partai Arab Indonesia (PAI).
Pada 1984, Sinar Harapan menerbitkan buku Hamid Algadri, Snouck Hurgronje, Politik Belanda terhadap Islam dan Keturunan Arab. Dalam buku ini, empat hal -- yaitu, autobiografi penulis, biografi politik Snouck Hurgronje, politik Islam Hindia Belanda, dan kedudukan serta peranan keturunan Arab dari masa ke masa -- oleh Amik dipakai sebagai bingkai permasalahan mengenai proses integrasi nasional.
Amik menikah dengan Zena Alatas. Pasangan ini beroleh empat anak.
|