
Nama : HASJRUL HARAHAP
Lahir : Pematangsiantar, Sumatera Utara, 18 November 1931
Agama : Islam
Pendidikan : - SD Negeri (1945)
- SMP Negeri (1948)
- SMA Negeri (1952)
- Fakultas Pertanian UI, Bogor (1961)
- Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara (belum selesai 1965)
- Kursus Asisten Tanaman, Sumatera Utara IV (1961)
- Kursus Top Management, Jakarta (1971)
- Kursus Indonesian Senior Executives Program, Prancis (1980)
Karir : - Guru SMP Taman Putra, Bogor (1956-1957)
- Guru SMA HMI, Bogor (1957-1958)
- Guru SMA Taman Madya dan Regina Pacis, Bogor (1958-1961)
- Asisten Tanaman PPN Sumut IV Sei Mangke/Badan Pertimbangan Pertanian Sum-Ut (1961-1962)
- Staf Ahli/Interne Controle (1963)
- Kepala Bagian Ekonomi PPN Karet V/Dosen KPP Morawa/Anggota Dewan Pengembangan Pertanian Sum-Ut (1965-1967)
- Penjabat Direktur Produksi PNP V di Sumatera Utara (1968)
- Direktur Produksi PNP V di Sumatera Utara (1968-1976)
- Direktur Produksi PTP V (1976-1978)
- Dirut PTP XXIII di Surabaya (1978)
- Penjabat Ketua Staf Bina Perusahaan Negara Sektor Pertanian Jakarta (1982)
- Menteri Muda Urusan Peningkatan Produksi Tanaman Keras (1983- sekarang)
Alamat Rumah : Jalan Kebon Binatang III/5, Jakarta Pusat Telp: 331618
Alamat Kantor : Jalan Mangunsarkoro 1, Jakarta Pusat Telp: 334692
|
|
HASJRUL HARAHAP
Hasjrul sempat merasa geli: ada anggapan, tanaman keras itu hanya kemiri, atau benda keras sejenisnya. Padahal, Menteri Muda Urusan Peningkatan Produksi Tanaman Keras (Menmud UPPTK) ini mengurusi berbagai macam tanaman, yaitu kelapa sawit, kopi, karet, kelapa, tebu, cokelat, teh, dan sebagainya. "Kalau hanya kemiri, kenapa tidak disebut saja saya ini menteri kemiri," katanya.
Bukan hanya tanaman, perkebunan sekaligus merupakan bagian dari lingkup kerjanya. Ia sangat memberikan perhatian kepada perkebunan rakyat. Sebab, selain luasnya meliputi 86% dari seluruh luas perkebunan, "Perkebunan rakyat merupakan tulang punggung perekonomian," katanya.
Menurut Hasjrul, mutu hasil perkebunan rakyat masih sangat rendah, karena belum diolah dengan peralatan yang baik. Tambahan pula, dalam proses penjualan, masih sering terjadi perlakuan yang akhirnya merusakkan mutu, misalnya dengan merendam di air, mencampuri dengan batu, dan sebagainya untuk menambah berat.
Dijelaskannya, komoditi perkebunan Indonesia yang ditolak Amerika Serikat pada 1982 meliputi 414 ton pala, 454,5 ton lada hitam, 88 ton lada putih, dan 534,9 ton cassiavera. Padahal, "Meningkatkan mutu hasil perkebunan rakyat akan lebih cepat mendatangkan tambahan devisa ketimbang melakukan penanaman baru," ujarnya.
Lulusan Fakultas Pertanian UI -- sekarang IPB -- ini cukup lama berkecimpung di bidang perkebunan. Mulai sebagai Pembantu Asisten Tanaman PPN IV Sei Mangkei, Sumatera Utara, ia sempat menjadi Direktur Utama PTP XXIII di Surabaya, sejak 1978. Beberapa bulan merangkap penjabat Ketua Staf Bina Perusahaan Negara Sektor Pertanian di Jakarta, ia kemudian diangkat menjadi menteri muda.Berkepribadian ulet, ketika masih menjadi mahasiswa di Bogor, Hasjrul menyempatkan diri mengajar di beberapa SMP dan SMA. Bahkan, ia mengaku, pernah menjadi pedagang kaki lima. Semasa kecil, Hasjrul sering membantu ibunya membuat minyak goreng. Setiap hari memarut kelapa, "Eh, tak tahu sekarang saya menjadi menteri yang mengurusi tanaman kelapa," guraunya mengenang masa lalu.
Dari sektor perkebunan, pada 1988 pemerintah mengharapkan devisa US$ 5 milyar. Pada 1983 baru tercapai US$ 2,3 milyar. Karena itu, Hasjrul mengundang para investor dalam pengembangan usaha perkebunan.
Untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit pemerintah, Hasjrul menawarkan pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR). Perkebunan yang dibiayai investor ini -- 80% perkebunan plasma dan 20% perkebunan inti -- akan dibeli pemerintah setelah mulai menghasilkan. Kemudian, para petani akan memiliki kebun plasma yang dijual pemerintah secara kredit. Hasjrul cukup dirisaukan produksi tebu yang tidak menggembirakan. Sejak Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI) dijalankan, 1975, produksi menurun 33%. Tambahan lagi, kemarau pada musim tanam 1982/1983 menimbulkan kerugian bagi petani. Akibatnya, "Mereka enggan menanam tebu," kata Hasjrul.
Suatu ketika Hasjrul berkunjung ke daerah Malang. Berbincang dengan seorang petani kopi, Menteri sempat tercengang. Si petani yang mengaku mendapat penyuluhan dari dinas perkebunan menyebutkan, ia berhasil meningkatkan produksi kopi dari 2,5 ton menjadi 3,2 ton per ha. Memiliki tanah 1,5 ha, ia menjual kopi Rp 1.350 per kg. Setelah menghitung, "Wah, edan. Gaji petani lebih besar dari menteri," puji Hasjrul.
Tidak merokok, Hasjrul mengaku gemar membaca, terutama buku tentang manajemen. Dari pernikahannya dengan Siti Aida Nasution, Hasjrul memperoleh seorang putri.
Gemar berolah raga, ketika remaja ia main bola dan angkat besi. Di perkebunan ia akrab dengan tenis dan golf. Karena terbatasnya waktu, "Sekarang hanya jogging atau senam ringan," katanya.
|